Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n
Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu.
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n
Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu.
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n
Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n
Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu.
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n
Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n
Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n
Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu.
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n
Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n
Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n
Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n
Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n
Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu.
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil. <\/p>\n\n\n\n Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%. Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n \"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n \"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n \"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n \"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n \"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n \"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n \"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n \"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n \"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n \"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n \"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n \"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n