\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang menjadikan penolakan kenaikan iuran semakin keras disuarakan adalah alasan mengapa BPJS selalu mengalami defisit sehingga mereka memutuskan untuk menaikkan iuran dengan angka yang fantastis. Ada dua alasan utama mengapa pada akhirnya pemerintah menaikkan iuran BPJS, yang pertama kecurangan tagihan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit rekanan BPJS. Alasan selanjutnya karena banyaknya peserta BPJS yang tidak tertib dalam membayar iuran mereka.<\/p>\n\n\n\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Surat Terbuka untuk Dirut BPJS Kesehatan: Perokok Bukan Kambing Hitam Atas Bobroknya BPJS Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Yang menjadikan penolakan kenaikan iuran semakin keras disuarakan adalah alasan mengapa BPJS selalu mengalami defisit sehingga mereka memutuskan untuk menaikkan iuran dengan angka yang fantastis. Ada dua alasan utama mengapa pada akhirnya pemerintah menaikkan iuran BPJS, yang pertama kecurangan tagihan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit rekanan BPJS. Alasan selanjutnya karena banyaknya peserta BPJS yang tidak tertib dalam membayar iuran mereka.<\/p>\n\n\n\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berita mengenai kenaikan tarif iuran bulanan BPJS ini, tentu saja banyak mengundang reaksi dari warga masyarakat. Kebanyakan tentu saja menolak mentah-mentah karena angka kenaikan yang sangat tinggi. Ada juga yang menganggap kenaikan wajar saja namun dengan syarat kualitas pelayanan BPJS harus diperbaiki secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Surat Terbuka untuk Dirut BPJS Kesehatan: Perokok Bukan Kambing Hitam Atas Bobroknya BPJS Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Yang menjadikan penolakan kenaikan iuran semakin keras disuarakan adalah alasan mengapa BPJS selalu mengalami defisit sehingga mereka memutuskan untuk menaikkan iuran dengan angka yang fantastis. Ada dua alasan utama mengapa pada akhirnya pemerintah menaikkan iuran BPJS, yang pertama kecurangan tagihan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit rekanan BPJS. Alasan selanjutnya karena banyaknya peserta BPJS yang tidak tertib dalam membayar iuran mereka.<\/p>\n\n\n\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Angka-angka kenaikan iuran BPJS kesehatan, untuk kelas 3, dari sebelumnya Rp25.500 per jiwa per bulan, naik menjadi Rp42.000. Kelas 2, naik dari Rp51.000 menjadi Rp110.000. Dan untuk kelas 1, dari Rp80.000 menjadi Rp160.000.<\/p>\n\n\n\n

Berita mengenai kenaikan tarif iuran bulanan BPJS ini, tentu saja banyak mengundang reaksi dari warga masyarakat. Kebanyakan tentu saja menolak mentah-mentah karena angka kenaikan yang sangat tinggi. Ada juga yang menganggap kenaikan wajar saja namun dengan syarat kualitas pelayanan BPJS harus diperbaiki secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Surat Terbuka untuk Dirut BPJS Kesehatan: Perokok Bukan Kambing Hitam Atas Bobroknya BPJS Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Yang menjadikan penolakan kenaikan iuran semakin keras disuarakan adalah alasan mengapa BPJS selalu mengalami defisit sehingga mereka memutuskan untuk menaikkan iuran dengan angka yang fantastis. Ada dua alasan utama mengapa pada akhirnya pemerintah menaikkan iuran BPJS, yang pertama kecurangan tagihan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit rekanan BPJS. Alasan selanjutnya karena banyaknya peserta BPJS yang tidak tertib dalam membayar iuran mereka.<\/p>\n\n\n\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Per 1 Januari 2020, pemerintah berencana menaikkan iuran BPJS Kesehatan. Seluruh kelas layanan BPJS Kesehatan mengalami kenaikan yang cukup signifikan, bahkan ada yang mengalami kenaikan lebih dari 100 persen. Pemerintah beralasan defisit yang melulu dialami BPJS menyebabkan mereka mesti menaikkan biaya iuran bulanan.<\/p>\n\n\n\n

Angka-angka kenaikan iuran BPJS kesehatan, untuk kelas 3, dari sebelumnya Rp25.500 per jiwa per bulan, naik menjadi Rp42.000. Kelas 2, naik dari Rp51.000 menjadi Rp110.000. Dan untuk kelas 1, dari Rp80.000 menjadi Rp160.000.<\/p>\n\n\n\n

Berita mengenai kenaikan tarif iuran bulanan BPJS ini, tentu saja banyak mengundang reaksi dari warga masyarakat. Kebanyakan tentu saja menolak mentah-mentah karena angka kenaikan yang sangat tinggi. Ada juga yang menganggap kenaikan wajar saja namun dengan syarat kualitas pelayanan BPJS harus diperbaiki secara signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Surat Terbuka untuk Dirut BPJS Kesehatan: Perokok Bukan Kambing Hitam Atas Bobroknya BPJS Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Yang menjadikan penolakan kenaikan iuran semakin keras disuarakan adalah alasan mengapa BPJS selalu mengalami defisit sehingga mereka memutuskan untuk menaikkan iuran dengan angka yang fantastis. Ada dua alasan utama mengapa pada akhirnya pemerintah menaikkan iuran BPJS, yang pertama kecurangan tagihan yang dilakukan oleh pihak rumah sakit rekanan BPJS. Alasan selanjutnya karena banyaknya peserta BPJS yang tidak tertib dalam membayar iuran mereka.<\/p>\n\n\n\n

Rumah sakit, sebagai pihak utama yang menjembatani antara pengguna BPJS dengan pengelola BPJS, memang menjadi kunci keberhasilan pelayanan BPJS. Sayangnya tidak sedikit rumah sakit yang melakukan kecurangan kepada kedua belah pihak yang seharusnya dijembatani. Rumah sakit melakukan kecurangan kepada pengguna BPJS sekaligus mencurangi pengelola BPJS.<\/p>\n\n\n\n

Bukan sekali dua kita membaca berita, atau mendengar langsung kisah dari seseorang yang begitu kesulitan mendapat layanan kesehatan karena menggunakan BPJS. Tidak semua rumah sakit memang berlaku begitu, tapi, tidak sedikit juga rumah sakit yang memperlakukan pasien BPJS dengan perlakuan yang tidak mengenakkan. Antrian yang panjang, pengurusan obat-obatan dan pelayanan kesehatan lain yang terkesan dipersulit, hingga keputusan sepihak menurunkan kelas pelayanan, tidak sesuai dengan kelas pelayanan yang terdaftar di BPJS. Atau malah dengan mentah-mentah menolak pasien BPJS dengan alasan rumah sakit penuh, padahal pasien lain non-BPJS di saat yang sama bisa mengakses pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, pihak rumah sakit juga mengerjai pengelola BPJS. Mereka mengirim tagihan kepada pihak pengelola BPJS dengan angka yang dinaikkan dari angka sesungguhnya. Ada banyak cara untuk bisa melakukan kecurangan itu, mulai dari menipu kelas layanan, tagihan obat dan perawatan, dan banyak lagi lainnya. Kenakalan-kenakalan semacam ini menjadi salah satu penyebab kebocoran anggaran BPJS sehingga mereka mengalami defisit.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kenaikan Tarif Cukai 23% Tanpa Dasar Relevan dan Terkesan Asal-Asalan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bisa jadi warga yang menunggak iuran BPJS, tidak tertib membayar iuran BPJS, melakukan itu karena kecewa dengan pelayanan di rumah sakit, di luar ketiadaan uang atau lupa atau kurang gigihnya pihak pengelola BPJS menagih iuran bulanan BPJS. Jadi, selain memperbaiki pelayanan di rumah sakit, kegigihan menagih iuran semestinya juga dilakukan agar defisit tidak terus menerus terjadi.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, alih-alih memperbaiki sistem dalam tubuh BPJS, lantas menertibkan pihak rumah sakit yang berlaku curang dan menipu, atau bahkan memberikan hukuman berat kepada pihak rumah sakit yang berlaku curang hingga menyebabkan anggaran BPJS mengalami defisit, pemerintah tanpa pikir panjang dan semena-mena menaikkan tarif iuran BPJS. Segelintir pihak yang membikin BPJS defisit, beban malah mesti ditanggung seluruh rakyat Indonesia. Jadi wajar jika warga banyak yang menolak kenaikan iuran BPJS ini.<\/p>\n\n\n\n

Kemarahan warga semakin memuncak dengan komentar ngawur beberapa pihak di BPJS dan pemerintah menanggapi protes warga menolak kenaikan iuran BPJS. Dua di antaranya adalah komentar direktur utama BPJS, Fahmi Idris yang bergaji Rp342 juta per bulan itu, dan wakil presiden Jusuf Kalla. Bukannya memberikan keterangan yang baik dan relevan, mereka malah mengeluarkan komentar bernada menyindir.<\/p>\n\n\n\n

\u201cBayar parkir motor Rp2 ribu sehari atau beli rokok Rp8 ribu sehari masih bisa, tapi kok menyisihkan Rp5 ribu per hari kok tidak ada kesadaran itu,\u201d Ujar Fahmi Idris mengomentari penolakan kenaikan iuran BPJS.<\/h2>\n\n\n\n

Senada dengan Fahmi, Jusuf Kalla juga mengeluarkan pernyataan yang menyindir, \u201cSiapa yang khawatir (iuran BPJS naik)? Hanya ngomong saja, padahal beli pulsa tiga kali lipat daripada itu, beli rokoknya lebih dari itu (iuran BPJS).\u201d<\/p>\n\n\n\n

Dua komentar di atas, jelas-jelas menyerang perokok yang belum tentu semuanya menolak kenaikan BPJS tetapi sudah pasti membantu menalangi defisit BPJS dua tahun belakangan lewat cukai rokok. Lucu, sungguh sangat lucu. Pihak BPJS dan pemerintah tidak mampu mengelola dana BPJS dengan baik (sekadar menertibkan penarikan iuran saja tidak mampu), tidak mampu membangun kerja sama dengan pihak rumah sakit secara sehat sehingga mereka ditipu mentah-mentah yang menyebabkan defisitnya anggaran mereka, tetapi semua itu dibebankan kepada masyarakat dengan menaikkan iuran BPJS. Saat ada yang protes, bukannya memberikan penjelasan yang mumpuni dan relevan, mereka kok malah menyalahkan para perokok yang jelas-jelas sudah menutupi kebobrokan kinerja mereka. Kalau seperti ini terus, buat apa gaji sampai 300 juta lebih per bulan kok tetap goblok dan menggemaskan. 
<\/p>\n","post_title":"Pengelola BPJS yang Tidak Becus, Perokok yang Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pengelola-bpjs-yang-tidak-becus-perokok-yang-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-10 09:15:08","post_modified_gmt":"2019-10-10 02:15:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6135","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6117,"post_author":"878","post_date":"2019-10-03 11:10:54","post_date_gmt":"2019-10-03 04:10:54","post_content":"\n

Saya tak tahu sejak kapan Hari Kretek mulai diperingati setiap tahunnya pada tiap tanggal 3 Oktober. Dan saya sedang enggan mencari tahu. Saya juga tak tahu pasti kenapa tanggal 3 Oktober dipilih sebagai Hari Kretek selain pada tanggal itu museum kretek di Kudus resmi dibuka. Atau memang hanya itu satu-satunya alasan?<\/p>\n\n\n\n

Namun, jika mengacu pada konteks musim panen, baik itu panen tembakau juga panen cengkeh, dua bahan baku utama ramuan kretek, pemilihan 3 Oktober sebagai Hari Kretek saya rasa cukup tepat. Pada penghujung musim kemarau, di banyak tempat, petani baru saja usai memanen tembakau dan cengkeh mereka. Kegembiraan tentu saja wajar dirasa. Lebih lagi jika harga tembakau dan cengkeh sedang bagus. Patut dirayakan.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhir abad 19 hingga awal abad 20 racikan kretek kali pertama dikenal umum. Banyak yang bilang, Djamhari yang menemukan ramuan kretek usai mengoleskan minyak cengkeh ke lintingan tembakaunya, ia memang sebelumnya rutin menggunakan minyak cengkeh untuk mengobati penyakit asmanya. Saya sendiri kurang sepakat dengan tesis itu. Saya lebih sepakat Djamhari memopulerkan racikan kretek, bukan yang menemukan.<\/p>\n\n\n\n

Kretek mulai menjadi industri rumah tangga di kota Kudus. Setelah pasar perokok di nusantara mulai mengenal kretek dan menyukai produk ini, industri kretek lantas berkembang dari industri rumah tangga ke industri skala besar. Dari industri ini, tersohorlah nama Nitisemito, si raja kretek dari Kudus pemilik pabrik rokok kretek Tjap Bal Tiga.<\/p>\n\n\n\n

Industri kretek inilah yang kemudian kembalu menaikkan harga jual cengkeh setelah sebelumnya sempat anjlok. Pertanian cengkeh kembali bergeliat karena kebutuhan cengkeh untuk produksi kretek kian meningkat. Kebun-kebun baru dibuka, kebun lama diremajakan. Yang masih produktif dirawat baik-baik.<\/p>\n\n\n\n

Pertanian tembakau, yang sebelumnya sudah cukup baik, kian bergeliat seiring pesatnya perkembangan peredaran rokok kretek. Uniknya, hingga hari ini, produk kretek merupakan kekhasan Indonesia. Belum ada negara lain yang memproduksi rokok sejenis kretek.<\/p>\n\n\n\n

Dari sisi ekonomi, saat ini industri kretek menghidupi sekira enam juta petani tembakau dan sepuluh juta petani cengkeh di Indonesia. Puluhan ribu buruh pabrik, hingga pedagang-pedagang rokok. Dalam satu tahun, cukai dari industri ini memberi pemasukan lebih dari 160 trilyun. Tak salah jika banyak orang menganggap kretek bukan lagi sekadar produk konsumsi khas Indonesia, Ia juga layak disebut sebagai warisan kebudayaan nusantara yang mengharumkan bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, perang dagang dan perebutan pasar rokok menimbulkan kampanye-kampanye tak elok yang ditujukan kepada rokok, terutama rokok kretek nasional. Segala rupa aturan diciptakan untuk menggembosi rokok kretek nasional. Mulai dari FCTC, undang-undang pertembakauan dan KTR, hingga yang terbaru, menaikkan persentase cukai dengan angka kenaikkan tak terduga dan sangat mengejutkan. Tentu saja kenaikan cukai sebesar 23 persen mengejutkan semua pihak, mulai dari petani hingga konsumen.<\/p>\n\n\n\n

Berdasar informasi yang saya terima dari tiga tempat berbeda, harga cengkeh tahun ini tidak terlalu bagus, berkisar di angka 70 ribuan. Ini jauh dari harga normal beberapa tahun belakangan yang mencapai Rp90 ribu hingga Rp120 ribu. Begitu juga dengan harga tembakau. Pengumuman kenaikan cukai sudah mempengaruhi menurunnya harga tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Lantas, pada kondisi seperti ini, apakah etis merayakan hari kretek? Saya kira masih perlu, dan relevan. Mari rayakan hari kretek dengan berkumpul bersama kawan-kawan. Mengisap kretek favorit masing-masing, lantas berkonsolidasi untuk ikut membantu semampunya menjaga kretek kebanggaan kita. Agar ia tetap ada dan lestari. Dan agar ia masih bisa terus menghidupi jutaan manusia di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Selamat Hari Kretek Nasional. Salam sebats.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Merayakan Hari Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"merayakan-hari-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-03 11:11:05","post_modified_gmt":"2019-10-03 04:11:05","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6117","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6088,"post_author":"878","post_date":"2019-09-20 09:47:05","post_date_gmt":"2019-09-20 02:47:05","post_content":"\n

Dahulu, bahkan mungkin hingga saat ini, citra yang timbul saat melihat sejumput tembakau, kertas linting, cengkeh kering, yang dilinting menjadi lintingan kretek yang biasa disebut tingwe, adalah citra perihal kuno, tua, dan segala hal yang jadul-jadul lainnya. Aktivitas merokok tingwe, adalah aktivitasnya orang-orang tua, bukan anak muda. Anak muda yang suka tingwe, akan dianggap aneh, terkadang seleranya itu dicemooh.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi jika dalam kandungan tingwe itu terdapat unsur kemenyan di dalamnya. Cap selera orang tua sudah pasti melekat di sana. Hal ini memang lumrah, karena biasanya hanya orang-orang tua yang masih merokok dengan cara tingwe, hingga menggunakan campuran kemenyan segala. Anak-anak muda, lebih memilih merokok produk pabrikan. Mereka sempat pada tahap asing dengan tingwe dan menstigma tingwe sebagai selera uzur, kuno, dan hanya orang tua yang begitu. <\/p>\n\n\n\n

Dalam pergaulan anak-anak muda, adakalanya bahkan produk-produk sigaret kretek tangan (SKT) atau yang biasa disebut kretek non-filter dipandang miring dan juga dianggap sebagai selera orang tua. Sigaret kretek mesin (SKM) reguler juga sempat dicemooh seperti itu. Anak-anak muda banyak menganggap bahwa rokok bagi golongan mereka adalah rokok sigaret kretek mesin (SKM) mild dan atau sigaret putih mesin (SPM). Tidak semua memang seperti itu, tetapi di banyak tempat, stigma-stigma semacam itu pernah dan masih berkembang.<\/p>\n\n\n\n

Dua hingga tiga tahun belakangan, di beberapa tempat terutama di kota-kota besar, stigma-stigma perihal selera rokok seperti di atas perlahan mulai pudar. Kesadaran akan produk kretek sebagai produk kebanggaan bangsa, dan lagi, berubahnya selera terhadap rokok yang beredar di dalam negeri, mengubah banyak stigma perihal rokok kretek, SKT dan SKM, dan terutama, aktivitas merokok dengan cara tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Peredaran Rokok Ilegal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Anak-anak muda mulai familiar dengan tingwe. Mereka menikmati rokok tingwe seperti menikmati rokok pabrikan pada umumnya. Dan tentu saja sudah tidak peduli dengan anggapan bahwa mereka yang merokok tingwe berselera rendahan dan kuno. Tingwe menjelma sebagai tren baru anak-anak muda di beberapa kota besar di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya mungkin sekadar ingin mencoba, ada juga yang untuk gaya-gayaan dan ingin dianggap lain dari yang lain. Akan tetapi ada pula yang memang cocok dengan rasa dari tembakau pilihannya dan pada akhirnya memutuskan untuk merokok tingwe saja, meninggalkan produk rokok pabrikan yang sebelumnya biasa ia isap.<\/p>\n\n\n\n

Di lain tempat, ada juga yang memang memilih merokok tingwe dengan alasan utama keterbatasan uang untuk membeli rokok pabrikan. Harga tembakau, kertas linting, dan cengkeh kering digabung jadi satu masih jauh lebih murah dari harga rokok reguler yang dikeluarkan pabrikan-pabrikan di Indonesia. Ini biasanya menjadi pilihan mahasiswa-mahasiswa asal wilayah penghasil tembakau yang merantau untuk kuliah di beberapa kota besar di Indonesia. Selain mahasiswa, pilihan rokok tingwe juga diambil oleh perantau non-mahasiswa yang berasal dari wilayah penghasil tembakau. Dua rombong besar perantau ini kemudian menularkan ke teman-temannya yang lain sehingga lambat laun aktivitas merokok tingwe bisa ditemukan dengan mudah. Anak-anak muda tidak lagi takut dicap kuno dan berselera rendahan karena merokok tingwe.<\/p>\n\n\n\n

Selain harga yang murah, kelebihan merokok tingwe adalah, kita bisa meracik rokok sesuai dengan selera masing-masing. Seberapa ukuran lintingan, seberapa banyak tembakau yang digunakan, seberapa banyak cengkeh yang digunakan, juga bisa menambahkan bahan-bahan campuran lainnya sesuai selera. Aktivitas melinting rokok juga butuh keahlian sendiri. Kita akan merasakan kenikmatan lebih jika berhasil melinting rokok tingwe kita dengan baik. Lebih nikmat jika dibanding merokok dengan rokok langsung jadi produk pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tidak Perlu Menaikkan Cukai, Begini Cara Mengurangi Angka Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sejauh ini, mereka yang mulai merokok tingwe, biasanya menjadikan tingwe sebagai selingan, atau pendamping dalam aktivitas merokok. Mereka masih tetap merokok rokok favorit produk pabrikan pilihan mereka masing-masing. Masih sedikit yang benar-benar memilih tingwe saja dan sudah sama sekali enggan merokok produk pabrikan reguler.<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi, tahun depan mungkin akan banyak perubahan drastis. Para penikmat rokok tingwe sepertinya akan meninggalkan sama sekali rokok pabrikan yang mereka isap bergantian dengan rokok tingwe. Lebih dari itu, akan banyak penikmat rokok tingwe baru, mereka beralih dari mengonsumsi rokok pabrikan secara reguler dan berganti mengonsumsi rokok tingwe sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Penyebabnya tentu saja kebijakan pemerintah lewat kementerian keuangan yang menaikkan besaran cukai rokok mencapai 23% per 1 Januari 2020. Dengan kenaikan cukai sebesar itu, harga rokok diprediksi naik hingga 35% dari harga sebelumnya. Tentu saja ini akan memberatkan banyak perokok dari kelas menengah ke bawah, jumlah terbesar perokok di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Salah satu alasan kementerian keuangan menaikkan cukai rokok adalah untuk memenuhi tuntutan kementerian kesehatan agar para perokok berkurang jika harga rokok naik. Sayangnya, saya pikir alasan itu kurang relevan dan tujuan mengurangi jumlah perokok tidak akan berhasil secara signifikan. Para perokok akan mencari celah untuk tetap bisa menikmati rokok mereka sebagai sarana relaksasi dan rekreasi termurah dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n\n\n\n

Ada dua pilihan yang tersedia bagi para perokok untuk mengakali naiknya harga rokok secara drastis di tahun depan. Cara pertama adalah dengan ganti rokok dengan harga yang lebih murah. Kondisi ini berpotensi membikin rokok ilegal tak bercukai dengan harga sangat murah marak beredar di pasaran. Ini tentu saja akan sangat merugikan pemerintah alih-alih mendapat pemasukan lebih banyak dengan menaikkan persentase cukai.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Cara kedua, adalah dengan beralih merokok tingwe. Dan saya yakin, pilihan ini yang akan banyak dipilih oleh para perokok di Indonesia, terutama anak-anak muda, perokok usia 18 hingga 35 tahun. Ke depannya, prediksi saya, posisi rokok tingwe mirip dengan menjamurnya para penikmat kopi non-sasetan, kopi-kopi premium yang dijual di banyak kafe di negeri ini. Yang membedakan, jika pada mulanya pemilihan kopi premium itu berdasar selera lidah untuk mencicip kopi yang lebih nikmat dengan harga yang relatif mahal dibanding kopi sasetan, hingga akhirnya menjadi tren di kalangan anak-anak muda pencinta senja, pilihan merokok tingwe lebih karena perlawanan. Perlawanan menolak kenaikan cukai rokok yang mendongkrak harga rokok pabrikan dengan sangat signifikan.<\/p>\n\n\n\n

Bukan tak mungkin, rokok tingwe kelak akan menjadi starter-pack anak-anak indie pencinta senja selain kopi, senja, dan musik-musik dengan lirik yang, ya, indie bangetlah.
<\/p>\n","post_title":"Melawan dengan Tingwe","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melawan-dengan-tingwe","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-20 09:47:12","post_modified_gmt":"2019-09-20 02:47:12","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6088","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6080,"post_author":"878","post_date":"2019-09-19 08:26:28","post_date_gmt":"2019-09-19 01:26:28","post_content":"\n

\u201cBekerja di tengah perkebunan karet seperti saya, yang untuk mencapai lokasi perkebunan mesti lewat perkebunan sawit dan kadang mesti lewat hutan juga, merek rokok nggak lagi penting, Mas. Yang penting rokoknya banyak asapnya, dan terutama, harganya murah. Kalau rasa, lama-lama juga terbiasa kok. Kan bahan dasarnya sama juga, tembakau dan cengkeh.\u201d Ujar Supangat.<\/p>\n\n\n\n

\u201cKenapa harus banyak asapnya, Mas?\u201d Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDi kebun karet itu, nyamuknya banyak, Mas, banyak banget. Selain selalu bawa bat nyamuk, rokok yang asapnya banyak juga membantu mengusir nyamuk.\u201d<\/p>\n\n\n\n

Obrolan antara saya dengan Supangat itu terjadi sekira delapan tahun lalu, di tengah perkebunan karet di salah satu wilayah transmigrasi di Provinsi Jambi. Supangat seperti kebanyakan transmigran lainnya yang masuk ke Jambi pada periode 80an awal. Mereka berasal dari beberapa wilayah di Pulau Jawa, secara sukarela mendaftarkan diri menjadi transmigran, dan bekerja di kebun-kebun karet dan atau kebun-kebun sawit di beberapa wilayah di Jambi.<\/p>\n\n\n\n

Saya lantas mengambil bungkus rokok kretek sigaret kretek tangan (SKT) milik Supangat, memperhatikan detail bungkus rokok, mengambil sebatang kretek dari dalam bungkus, lantas mencicip kretek itu. Rokok kretek milik Supangat yang saya cicip bermerek Rawit, seingat saya produksi pabrikan di Malang, Jawa Timur. Tak ada pita cukai yang menempel di bungkus rokok itu. Berdasarkan informasi dari Supangat, harga sebungkus rokok SKT merek Rawit ketika itu seharga Rp2.500 saja, jika beli langsung satu slop berisi 10 bungkus, harganya Rp20.000.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Menyoal Cukai Rokok 23%, dari Pendapatan Negara hingga Upaya Pembunuhan Massal<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di kios-kios yang saya datangi di desa-desa transmigran yang tersebar di Jambi, Sumatra Selatan, Riau, hingga Aceh, saya banyak menemukan rokok sejenis Rawit, baik itu dari jenis SKT, juga jenis SKM, dengan harga yang sangat murah dan tentu saja tanpa pita cukai. Tiap kali berkunjung ke kios untuk membeli rokok favorit saya, saya juga sering membeli rokok-rokok merek lain yang asing bagi saya, dan hampir seluruhnya, tanpa pita cukai. Dari sekian banyak rokok semacam itu yang pernah saya lihat atau saya beli sebagai pemuas rasa penasaran saya, ada beberapa yang masih saya ingat mereknya. Selain Rawit, ada Joget, M17 Hitam, M17 Filter, Gudang Ganam, Djuram, Soery 16.<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan bungkus rokok dan font tulisan di bungkus rokok tak bercukai itu, memiliki kemiripan dengan rokok-rokok merek terkenal yang biasa beredar di pasar Indonesia. Semasa saya tinggal di Jambi lebih dari satu tahun, dan kerap berinteraksi dengan masyarakat di desa transmigran, saya mengamati dengan cukup serius keberadaan rokok-rokok berharga super murah ini di kios-kios di desa transmigran. <\/p>\n\n\n\n

Setiap bulan, ada saja merek baru dari rokok-rokok super murah ini yang datang ke desa dan dijual di kios-kios. Beberapa bisa bertahan cukup lama, kebanyakan hanya muncul sebulan dua bulan lantas menghilang, digantikan merek-merek baru dengan harga murah lainnya. Rokok-rokok semacam ini dijual bersaing dengan rokok-rokok bercukai dengan harga tiga hingga lima kali lipat dari harga rokok tak bercukai itu.<\/p>\n\n\n\n

Ketika saya berkunjung ke Sulawesi Selatan, mendatangi beberapa desa di kaki pegunungan Latimojong dan kaki gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, saya juga menemukan rokok-rokok murah tak berpita cukai seperti yang saya temukan di desa transmigran di Sumatra. Di Papua pun begitu. Dan yang terbaru, di beberapa desa di kabupaten yang dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil tembakau, Jember.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perbedaan Varian Rokok yang Beredar di Pasaran<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok-rokok tak berpita cukai dengan harga murah ini juga beredar di Kalimantan, Maluku, Bali, Lombok, Flores, dan banyak tempat lainnya. Bisa dikatakan, hampir di seluruh Indonesia rokok-rokok harga murah tak berpita cukai ini beredar. Utamanya, rokok-rokok jenis ini beredar di wilayah-wilayah perdesaan, dengan pekerjaan utama warganya sebagai petani dan pekerja kebun, di perkebunan sawit, karet, kakao, cengkeh, dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Sekali dua pemerintah lewat aparat di bea cukai bekerja sama dengan pemerintah daerah berhasil menangkap mereka yang mengedarkan rokok-rokok tak bercukai yang tentu saja merugikan negara itu. Mereka tentu saja melanggar hukum karena mengabaikan kewajiban untuk membayar cukai sebagai syarat agar produk rokok mereka bisa diedarkan. Akan tetapi, saya kira keterbatasan aparat bea cukai dan kelihaian para pemain rokok ilegal ini menjadikan rokok-rokok ilegal masih bisa beredar di pasaran dan cukup mudah ditemui di kios-kios dan dijual secara terang-terangan.<\/p>\n\n\n\n

Belum lama ini, pemerintah lewat kementerian keuangan mengeluarkan pengumuman bahwa cukai rokok mulai awal tahun depan akan naik sebanyak 23%. Kenaikan cukai sebanyak 23% itu salah satunya berdampak pada kenaikan langsung harga rokok. Diperkirakan rata-rata rokok di pasaran naik sebanyak 35%. Jika harga rokok bercukai yang beredar di pasaran saat ini berada pada angka Rp15.000 hingga Rp25.000, maka mulai tahun depan harga rokok bercukai akan berada pada angka Rp20.250 hingga Rp33.750.<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan harga rokok seperti itu, alih-alih menurunkan jumlah perokok karena enggan mengeluarkan uang untuk membeli rokok semahal itu, malah akan semakin menambah semarak peredaran rokok ilegal di Indonesia. Wilayah peredaran rokok ilegal akan semakin luas, salah satu efek domino dari rokok ilegal ini, pendapatan negara lewat cukai rokok akan menurun, meskipun persentase cukai dinaikkan hingga 23%. Hal-hal semacam ini yang kadang luput dari pantauan pembikin kebijakan di level atas. Saya yakin masukan-masukan dari stakeholder sudah ada, akan tetapi, sepertinya tidak didengar sehingga pemerintah berkeras menaikkan cukai secara tak wajar, hingga mencapai 23%.
<\/p>\n","post_title":"Peredaran Rokok Ilegal","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"peredaran-rokok-ilegal","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-19 08:26:30","post_modified_gmt":"2019-09-19 01:26:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6080","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6053,"post_author":"878","post_date":"2019-09-12 08:19:22","post_date_gmt":"2019-09-12 01:19:22","post_content":"\n

Saya lupa kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Saya hanya ingat itu terjadi pada tahun 2004. Belum genap dua bulan saya merantau ke Yogya. Kuliah di jurusan yang banyak orang merasa asing atau terkejut mendengarnya. Jurusan Teknik Nuklir. Hari mulai terang. Subuh baru saja pergi saat Abah (Bapak) mengetuk pintu kamar kosan saya di Pogung Dalangan, Sleman.<\/p>\n\n\n\n

Usai menjawab salam Abah dan mencium tangannya, Abah bertanya, \"Udah sarapan belon, Lu?\" <\/p>\n\n\n\n

\"Belon.\" Jawab saya. <\/p>\n\n\n\n

\"Yaudah, siap-siap dah, Lu, kite nyari sarapan.\"<\/p>\n\n\n\n

Saya melepas sarung, mengenakan celana panjang, memakai jaket, lantas berangkat mencari sarapan bersama Abah. Saya terkejut ketika menemukan sebuah sepeda motor yang rupanya tidak asing bagi saya. Lebih lagi, sejak saya tinggal di kosan itu, tak ada sepeda motor seperti itu milik penghuni kosan.<\/p>\n\n\n\n

Menjawab rasa penasaran, saya lantas mengecek nomor plat motor itu: B 9090 BB. Persis. Itu sepeda motor Abah. \"Bangke, die naek motor sendirian dari Jakarta ke Jogja.\" Begitu saya membatin.<\/p>\n\n\n\n

\"Abah ni seriusan bawa motor sendiri ke sini?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Dianter Alloh dan rosulnye, Waz. Dianter Pak Habibie juge.\" Jawab Abah.<\/p>\n\n\n\n

\"Kan bisa naek bis ape kereta, Bah. Abah udah 50 tahun. Udah kagak muda lagi.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah, kan Abah ke sini mao nganter motor buat Lu pake di sini. Buat kuliah.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Kan motor bisa dipaketin.\"<\/p>\n\n\n\n

Abah tidak menjawab. Ia menyalakan mesin sepeda motor, meminta saya naik, lantas berangkat membeli sarapan. Sembari menyantap menu sarapan kami, kami melanjutkan perbincangan. Masih perihal sepeda motor.<\/p>\n\n\n\n

\"Gue kagak percaya ame perusahaan paketan kalo kudu ngirim motor ke sini. Gue lebih tenang dan percaya kalo gue sendiri yang nganter.\" Ujar Abah membuka percakapan di warung makan. <\/p>\n\n\n\n

\"Bilang aje pengen jalan-jalan. Pake bikin alesan panjang gitu, Bah.\" Ejek saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Kalo entu bonus. Di fikih prioritasnye, entu urutan kedua.\" Abah tertawa mengejek usai mengucapkan ini. Beberapa butir nasi sampai keluar dari mulutnya ketika Ia tertawa.<\/p>\n\n\n\n

Usai makan, Abah memacu sepeda motor ke arah berlawanan dengan arah menuju kosan saya. \"Mau ke mana, Bah?\" Tanya saya.<\/p>\n\n\n\n

\"Ke terminal. Gue mo pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ebuset. Kagak-kagak. Balik kosan kite. Abah belon ada sejam di Jogja, udah mo pulang aje.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Agenda gue cuman nganter motor bakal elu. Agenda rampung, gue kudu pulang.\"<\/p>\n\n\n\n

Sehari sebelum percakapan saya dengan Abah itu terjadi. Selepas salat subuh, Abah meninggalkan rumah kami di Rawabelong, Jakarta Barat. Mengendarai sepeda motor merek Honda Astrea Grand keluaran tahun 1998, seorang diri Abah berangkat ke Yogya.<\/p>\n\n\n\n

Abah memilih jalur selatan pulau Jawa. Meninggalkan Jakarta menuju Bandung terus ke Tasikmalaya hingga akhirnya jelang isya Abah tiba di Kutoarjo, Jawa Tengah. Abah istirahat di salah satu penginapan di Kutoarjo. Subuh hari berikutnya, selepas subuh Abah meninggalkan Kutoarjo menuju Yogya. Lantas berjumpa dengan saya seperti yang saya ceritakan di atas.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu, Abah hobi gonta-ganti sepeda motor. Abah juga sempat mengoleksi beberapa vespa. Namun, setelah memiliki sepeda motor Honda Astrea Grand yang Ia kendarai dari Jakarta ke Yogya itu. Abah hanya merawat dan menyayangi satu sepeda motor itu saja. Lainnya Ia jual, atau diberikan begitu saja kepada beberapa orang.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor Astrea Grand itu sangat spesial bagi Abah. Itu Ia dapat pada penghujung 1999. Abah tidak membeli sepeda motor itu. Sepeda motor itu hadiah dari seseorang yang spesial. Pak B.J Habibie.<\/p>\n\n\n\n

Saya tak tahu seperti apa ceritanya, dan Abah tidak pernah cerita detail tentang ini kepada saya atau kepada siapapun juga. Yang jelas tiba-tiba Abah pernah dapat kerjaan mengerjakan renovasi salah satu bagian taman di halaman rumah pribadi Pak B.J Habibie tak lama setelah Pak Habibie tak lagi menjadi presiden RI. Selain mendapat uang upah mengerjakan taman itu, Pak Habibie juga menghadiahkan sepeda motor kepada Abah. Sepeda motor yang pada akhirnya jadi kesayangan Abah.<\/p>\n\n\n\n

Sepeda motor itu, menemani dua tahun pertama saya di Yogya, sebelum akhirnya saya kirim balik ke Jakarta karena sempat saya terlantarkan berbulan-bulan di Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Seperti banyak orang tua lain yang mengharap anaknya setidaknya seperti Pak B.J Habibie, pada taraf tertentu, Abah juga begitu. Abah mewajibkan saya kuliah di fakultas teknik. Apapun itu tekniknya, terserah. Yang penting fakultas teknik.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali proposal saya untuk kuliah di dua jurusan berbeda ditolak mentah-mentah oleh Abah. Pertama saya ingin kuliah sejarah. Kedua, ilmu politik. \"Kalau nggak di teknik, mending di Rawabelong aje, Lu, dagang kembang di sini!\" Begitu Abah memberi instruksi tegas.<\/p>\n\n\n\n

Selepas maghrib waktu Jakarta, 11 September 2019, B.J Habibie meninggal dunia. Beliau berangkat menuju ke alam keabadian. Saya yakin sudah terlalu banyak yang mengenang Pak Habibie dalam kiprahnya sebagai pakar dalam dunia dirgantara, jenius yang jenaka, intelektual islam yang cerdas, presiden dan wakil presiden dengan jabatan tersingkat di Indonesia, dan segudang kebaikan yang memang ada dalam dirinya beserta beberapa hal kontroversial yang pernah Ia buat semasa 83 tahun hidup dan kehidupannya di bumi.<\/p>\n\n\n\n

Saya hendak mengenang Pak Habibie dengan cara lain, dengan cara yang lebih personal meskipun saya sekalipun belum pernah berjumpa dengan beliau. Saya mengenang Pak Habibie lewat Honda Astrea Grand pemberian beliau kepada Abah.<\/p>\n\n\n\n

Selamat jalan, Pak Habibie. Bahagia selalu di alam keabadian. Al Fatihah.<\/strong><\/p>\n","post_title":"Hadiah dari Pak Habibie","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hadiah-dari-pak-habibie","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-09-12 08:19:23","post_modified_gmt":"2019-09-12 01:19:23","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6053","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6008,"post_author":"878","post_date":"2019-08-30 15:06:07","post_date_gmt":"2019-08-30 08:06:07","post_content":"\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":7},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};