Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n
\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n