\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika kesadaran diri dan toleransi betul-betul hadir dalam diri para perokok, tak ada lagi kasus-kasus memalukan semacam merokok di tempat yang dilarang merokok semisal pada fasilitas kesehatan, ruang tertutup yang ditetapkan wilayah larangan merokok, rumah ibadah, dan beberapa tempat dilarang merokok lainnya. Tak ada juga kasus bercecernya sampah puntung rokok di mana-mana. Kesadaran diri juga menuntun para perokok untuk tidak merokok di dekat anak kecil apalagi menawarkan rokok kepada anak kecil. Tidak merokok didekat ibu hamil, dan, ini yang agak berat, tidak merokok didekat mereka yang memang alergi atau terganggu dengan keberadaan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada dan dipraktikkan dengan baik, cukup peraturan-peraturan mendasar saja yang diperlukan. Selanjutnya, kedua sikap penting tersebut mampu memandu semua pihak agar tidak saling terganggu dan saling mengganggu. Tak ada lagi perdebatan melelahkan, tak ada lagi saling serang yang memojokkan, dan tak ada lagi keributan-keributan tak berujung yang melelahkan karena dua belah pihak sama-sama mengusung argumen yang masing-masing pihak merasa sama kuatnya. Tak ada lagi semua itu. Yang ada sebatas sikap kesadaran diri dan saling toleransi yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi betul-betul hadir dalam diri para perokok, tak ada lagi kasus-kasus memalukan semacam merokok di tempat yang dilarang merokok semisal pada fasilitas kesehatan, ruang tertutup yang ditetapkan wilayah larangan merokok, rumah ibadah, dan beberapa tempat dilarang merokok lainnya. Tak ada juga kasus bercecernya sampah puntung rokok di mana-mana. Kesadaran diri juga menuntun para perokok untuk tidak merokok di dekat anak kecil apalagi menawarkan rokok kepada anak kecil. Tidak merokok didekat ibu hamil, dan, ini yang agak berat, tidak merokok didekat mereka yang memang alergi atau terganggu dengan keberadaan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak, saya sedang tidak ingin membicarakan itu.
Untuk konteks peraturan tentang produk rokok dan terutama aktivitas merokok, dalam posisi sederajat, sama rata, sama dalam mendapatkan hak serta menjalani kewajiban, Apakah bisa menuju kondisi ideal yang sama-sama menguntungkan pihak yang merokok dan pihak yang tidak merokok tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang muluk-muluk dan malah membingungkan? Saya membayangkan itu bisa terjadi dan peradaban yang baik dilihat dari sudut peraturan yang berlaku antara perokok dan bukan perokok. Dan bayangan saya itu, bisa benar-benar terjadi jika dua hal penting sudah benar-benar bisa diterapkan dengan baik baik itu oleh perokok juga oleh bukan perokok. Dua hal penting itu adalah kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada dan dipraktikkan dengan baik, cukup peraturan-peraturan mendasar saja yang diperlukan. Selanjutnya, kedua sikap penting tersebut mampu memandu semua pihak agar tidak saling terganggu dan saling mengganggu. Tak ada lagi perdebatan melelahkan, tak ada lagi saling serang yang memojokkan, dan tak ada lagi keributan-keributan tak berujung yang melelahkan karena dua belah pihak sama-sama mengusung argumen yang masing-masing pihak merasa sama kuatnya. Tak ada lagi semua itu. Yang ada sebatas sikap kesadaran diri dan saling toleransi yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi betul-betul hadir dalam diri para perokok, tak ada lagi kasus-kasus memalukan semacam merokok di tempat yang dilarang merokok semisal pada fasilitas kesehatan, ruang tertutup yang ditetapkan wilayah larangan merokok, rumah ibadah, dan beberapa tempat dilarang merokok lainnya. Tak ada juga kasus bercecernya sampah puntung rokok di mana-mana. Kesadaran diri juga menuntun para perokok untuk tidak merokok di dekat anak kecil apalagi menawarkan rokok kepada anak kecil. Tidak merokok didekat ibu hamil, dan, ini yang agak berat, tidak merokok didekat mereka yang memang alergi atau terganggu dengan keberadaan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Itu dalam posisi ideal. Ketika pembikin hukum dan peraturan berada pada posisi sejajar dengan mereka semua yang akan menjalani hukum dan peraturan yang telah ditetapkan. Lebih lagi jika seluruh anggota komunitas yang bernaung di bawah hukum dan peraturan itu dilibatkan dalam proses pembuatan peraturan, atau setidaknya diberitahu lewat sosialisasi-sosialisasi pendahuluan. Dan saya sedang ingin membicarakan yang ideal itu, bukan peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang dibikin semena-mena dan melulu diskriminatif jika itu berhubungan dengan peraturan yang terkait dengan produk rokok dan aktivitas merokok. <\/p>\n\n\n\n

Tidak, saya sedang tidak ingin membicarakan itu.
Untuk konteks peraturan tentang produk rokok dan terutama aktivitas merokok, dalam posisi sederajat, sama rata, sama dalam mendapatkan hak serta menjalani kewajiban, Apakah bisa menuju kondisi ideal yang sama-sama menguntungkan pihak yang merokok dan pihak yang tidak merokok tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang muluk-muluk dan malah membingungkan? Saya membayangkan itu bisa terjadi dan peradaban yang baik dilihat dari sudut peraturan yang berlaku antara perokok dan bukan perokok. Dan bayangan saya itu, bisa benar-benar terjadi jika dua hal penting sudah benar-benar bisa diterapkan dengan baik baik itu oleh perokok juga oleh bukan perokok. Dua hal penting itu adalah kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada dan dipraktikkan dengan baik, cukup peraturan-peraturan mendasar saja yang diperlukan. Selanjutnya, kedua sikap penting tersebut mampu memandu semua pihak agar tidak saling terganggu dan saling mengganggu. Tak ada lagi perdebatan melelahkan, tak ada lagi saling serang yang memojokkan, dan tak ada lagi keributan-keributan tak berujung yang melelahkan karena dua belah pihak sama-sama mengusung argumen yang masing-masing pihak merasa sama kuatnya. Tak ada lagi semua itu. Yang ada sebatas sikap kesadaran diri dan saling toleransi yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi betul-betul hadir dalam diri para perokok, tak ada lagi kasus-kasus memalukan semacam merokok di tempat yang dilarang merokok semisal pada fasilitas kesehatan, ruang tertutup yang ditetapkan wilayah larangan merokok, rumah ibadah, dan beberapa tempat dilarang merokok lainnya. Tak ada juga kasus bercecernya sampah puntung rokok di mana-mana. Kesadaran diri juga menuntun para perokok untuk tidak merokok di dekat anak kecil apalagi menawarkan rokok kepada anak kecil. Tidak merokok didekat ibu hamil, dan, ini yang agak berat, tidak merokok didekat mereka yang memang alergi atau terganggu dengan keberadaan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya orang yang percaya, semakin sedikit hukum dan peraturan yang dibuat, semakin baik sebuah komunitas dalam wadah berbentuk apapun, termasuk negara. Tentu saja berlaku sebaliknya, semakin banyak hukum dan peraturan yang dibuat, komunitas yang dinaungi hukum dan peraturan itu semakin buruk. Sederhannya, pada sisi pertama, kesadaran diri sudah berada pada posisi baik, dan kian menuju semakin baik. Pada sisi kedua, kesadaran diri dan situasi bermasyarakat semakin buruk sehingga diperlukan banyak peraturan untuk mengendalikan itu agar kondisi ideal bisa dicapai. Diperlukan perangkat hukum dan peraturan di sini, bukan lagi sekadar kesadaran diri anggota komunitasnya.<\/p>\n\n\n\n


Itu dalam posisi ideal. Ketika pembikin hukum dan peraturan berada pada posisi sejajar dengan mereka semua yang akan menjalani hukum dan peraturan yang telah ditetapkan. Lebih lagi jika seluruh anggota komunitas yang bernaung di bawah hukum dan peraturan itu dilibatkan dalam proses pembuatan peraturan, atau setidaknya diberitahu lewat sosialisasi-sosialisasi pendahuluan. Dan saya sedang ingin membicarakan yang ideal itu, bukan peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang dibikin semena-mena dan melulu diskriminatif jika itu berhubungan dengan peraturan yang terkait dengan produk rokok dan aktivitas merokok. <\/p>\n\n\n\n

Tidak, saya sedang tidak ingin membicarakan itu.
Untuk konteks peraturan tentang produk rokok dan terutama aktivitas merokok, dalam posisi sederajat, sama rata, sama dalam mendapatkan hak serta menjalani kewajiban, Apakah bisa menuju kondisi ideal yang sama-sama menguntungkan pihak yang merokok dan pihak yang tidak merokok tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang muluk-muluk dan malah membingungkan? Saya membayangkan itu bisa terjadi dan peradaban yang baik dilihat dari sudut peraturan yang berlaku antara perokok dan bukan perokok. Dan bayangan saya itu, bisa benar-benar terjadi jika dua hal penting sudah benar-benar bisa diterapkan dengan baik baik itu oleh perokok juga oleh bukan perokok. Dua hal penting itu adalah kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada dan dipraktikkan dengan baik, cukup peraturan-peraturan mendasar saja yang diperlukan. Selanjutnya, kedua sikap penting tersebut mampu memandu semua pihak agar tidak saling terganggu dan saling mengganggu. Tak ada lagi perdebatan melelahkan, tak ada lagi saling serang yang memojokkan, dan tak ada lagi keributan-keributan tak berujung yang melelahkan karena dua belah pihak sama-sama mengusung argumen yang masing-masing pihak merasa sama kuatnya. Tak ada lagi semua itu. Yang ada sebatas sikap kesadaran diri dan saling toleransi yang menyenangkan.<\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi betul-betul hadir dalam diri para perokok, tak ada lagi kasus-kasus memalukan semacam merokok di tempat yang dilarang merokok semisal pada fasilitas kesehatan, ruang tertutup yang ditetapkan wilayah larangan merokok, rumah ibadah, dan beberapa tempat dilarang merokok lainnya. Tak ada juga kasus bercecernya sampah puntung rokok di mana-mana. Kesadaran diri juga menuntun para perokok untuk tidak merokok di dekat anak kecil apalagi menawarkan rokok kepada anak kecil. Tidak merokok didekat ibu hamil, dan, ini yang agak berat, tidak merokok didekat mereka yang memang alergi atau terganggu dengan keberadaan asap rokok.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi yang lebih jauh lagi juga dibutuhkan ketika para perokok rela untuk tidak merokok di keramaian yang padat manusia dan diisi bukan hanya oleh perokok saja. Mereka para perokok mencari lokasi yang aman dan nyaman yang dirasa tidak mengganggu orang lain. Tentu saja tidak merokok dalam kendaraan dan tidak merokok saat berkendara juga harus menjadi kesadaran diri yang paling mendasar kini.<\/p>\n\n\n\n


Kesadaran diri dan toleransi diperlukan bukan hanya dari satu pihak semata. Mereka yang tidak merokok juga mesti menerapkan dua sikap ini terkait aktivitas merokok para perokok. Problem utama mereka yang tidak merokok adalah menganggap buruk segala sesuatu yang berhubungan dengan produk rokok dan aktivitas merokok. Lebih dari itu, mereka ingin menularkan anggapan itu mentah-mentah kepada para perokok. Jika ini masih terus terjadi, kondisi ideal yang menguntungkan dua belah pihak mustahil terbentuk.<\/p>\n\n\n\n


Mereka yang tidak merokok mesti menghadirkan kesadaran diri dan sikap toleransi dalam diri mereka terhadap para perokok. Silakan menganggap rokok itu buruk, namun cukup selesai pada diri Anda saja. Karena para perokok punya argumen dan keyakinannya sendiri yang saya kira, tak kalah kuat dipegang dengan mereka yang tidak merokok memegang argumen dan keyakinannya. <\/p>\n\n\n\n


Jika kesadaran diri dan toleransi itu hadir dalam diri mereka yang tidak merokok, mereka akan sadar bahwa merokok itu aktivitas legal yang dilindungi undang-undang, merokok itu hak siapapun yang syarat usianya sudah terpenuhi. Maka dengan sadar diri mereka akan menghormati itu. Jika kesadaran diri dan toleransi itu ada, mereka yang tidak merokok akan memaklumi para perokok yang merokok di ruang-ruang yang diperbolehkan merokok. Tidak mencibir apalagi mengkhotbahi mereka yang merokok itu. Mereka akan menoleransi para perokok dan pilihan mereka untuk merokok. Jika kesadaran diri dan sikap toleransi ada, tak akan ada peraturan aneh semacam desa bebas rokok, kampung tanpa asap rokok, kelurahan anti-tembakau, dan peraturan-peraturan sejenis.
Dan pada puncak kesadaran diri dan sikap toleransi itu, mereka yang tidak merokok mesti bisa memahami bahwa produk rokok dan aktivitas merokok, bukan sekadar hitam-putih, baik-buruk, dan pemisahan berdasar oposisi biner semata. Dalam produk rokok dan aktivitas merokok, ada karya di sana, ada pilihan untuk relaksasi, ada sarana untuk bersosialisasi, dan terutama, ada jutaan manusia yang mengandalkan hidup dan kehidupannya dari sektor tersebut. Jadi, mari bersama kita menuju kondisi ideal tanpa perlu membikin hukum dan peraturan yang aneh bin ajaib, kita ganti semua itu dengan membangun kesadaran diri dan sikap toleransi.<\/p>\n","post_title":"Toleransi dalam Sebatang Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"toleransi-dalam-sebatang-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-14 07:55:09","post_modified_gmt":"2019-06-14 00:55:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5786","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5782,"post_author":"878","post_date":"2019-06-13 06:00:37","post_date_gmt":"2019-06-12 23:00:37","post_content":"\n

Lewat momen mudik, setidaknya sekali dalam setahun saya kembali mengulang pelajaran matematika atas keinginan saya sendiri. Arus mudik dari Jakarta ke luar dan sebaliknya ketika arus balik terjadi, saya membayangkan rangkaian-rangkaian panah dalam bentuk vektor pada pelajaran matematika. Jika saat arus mudik, vektor berbentuk satu panah keluar Jakarta kemudian panah-panah itu menyebar ke segala arah, pada arus balik, arah vektor itu berbalik, dari segala arah menuju satu tempat di Jakarta. Tidak sesempurna itu memang. Namun berita di televisi dan media cetak didominasi oleh Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Ketika pada akhirnya saya juga mesti merasakan mudik meskipun lewat arah sebaliknya\u2014saya mudik ke Jakarta, tepatnya Rawabelong, kampung Abah dan Umi saya\u2014pelajaran-pelajaran dari vektor arus mudik-arus balik itu tak sekadar perihal matematika. Vektor-vektor itu mengantar saya mempelajari beberapa hal lainnya. Misal ketika sekali waktu dalam perjalanan menggunakan kereta api kembali ke Yogya usai mudik ke Jakarta, saya duduk bersebelahan dengan seorang pemuda asal Temanggung, Jawa Tengah. Ia baru sempat mudik usai lebaran karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan.<\/p>\n\n\n\n

Hampir separuh waktu perjalanan Pasar Senen-Lempuyangan, kami berbincang perihal Temanggung, gunung, dan komoditas Tembakau yang menjadi primadona di sana. Pemuda itu menceritakan perihal desa tempat keluarganya tinggal, desa dengan lokasi berada pada ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Ketika Ia balik bertanya kepada saya perihal asal-usul saya, alih-alih menceritakan Rawabelong kepadanya, saya malah menceritakan pengalaman saya dan pandangan saya tentang Kabupaten Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kali pertama dan terakhir mendaki Gunung Sumbing terjadi pada sebelas tahun yang lalu. Ketika itu lagi-lagi seorang diri saya mendaki gunung. Sebenarnya saya enggan mendaki gunung sendiri. Namun kadang perjalanan semacam itu saya butuhkan. Meskipun memutuskan mendaki seorang diri, saya memilih gunung yang ramai dikunjungi pendaki lain. Jadi sesungguhnya saya tidak benar-benar mendaki seorang diri. Ada banyak teman di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Trauma menyebabkan saya enggan kembali mendaki Gunung Sumbing. Enggan meskipun ada teman satu tim, lebih lagi jika mendaki lagi seorang diri. Saya kira di jalur pendakian gunung bebas dari kasus-kasus kejahatan. Nyatanya tidak sama sekali. Teman-teman saya tertawa mencibir mendengar perkiraan itu. Mereka bilang, \u201cJangankan di gunung, di rumah-rumah ibadah saja, kasus kejahatan tetap ada dan pernah terjadi.\u201d Memang betul ucapan mereka. Saya membuktikannya sendiri di jalur pendakian Gunung Sumbing via Desa Garung yang terletak di perbatasan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u201cKupatan\u201d di Pantura, Asyiknya Berlibur Berbekal Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pagi-pagi sekali, selepas subuh saya sudah meninggalkan Desa Garung untuk mendaki Gunung Sumbing. Perlengkapan saya semuanya masuk dalam dua buah tas. Satu ransel berukuran besar yang saya gendong di punggung dan satu lagi tas berukuran kecil yang saya sangkutkan di pundak dengan bagian utama tas di depan dada dan perut. Pohon-pohon tembakau belum lama di tanam, mayoritas tingginya sebatas lutut orang dewasa. Jalan beraspal sudah selesai saya lalui saat hari masih gelap.<\/p>\n\n\n\n

Saya tiba di Pos 1 ketika matahari sudah benar-benar terbit. Bumi yang terang membuat saya memutuskan untuk berhenti menikmati pemandangan sekitar Pos 1. Dibanding saudara kembarnya Gunung Sindoro, jalur pendakian Gunung Sumbing sedikit lebih terjal. Yang sama dari keduanya, sama-sama kering, tandus dan gersang. Karena masih pagi, saya memilih jalan santai dari Pos 1 menuju Pos 2. Jalan terjal menanjak memang cocok jika ditempuh dengan jalan santai. Jika sudah terlalu terengah-engah bernapas, saya berhenti cukup lama. Perjalanan kembali dilanjutkan ketika saya rasa napas sudah kembali normal.<\/p>\n\n\n\n

Tiba di Pos 2 perut saya belum terasa lapar. Panas matahari dan jalur menanjak membikin saya melulu merasa haus. Saya tetap memilih berjalan santai dari Pos 2 menuju Pos 3. Azan zuhur terdengar ketika saya dalam perjalanan menuju Pos 3. Setengah jam kemudian saya sudah tiba di Pos 3. Membuka makanan ringan sebagai menu makan siang dengan air mineral sebagai pendorong. Biasanya saya tetap memasak ketika rehat makan siang meskipun sekadar bihun atau mie instan dan segelas teh panas. Namun pilihan jalan santai selepas Pos 1 hingga Pos 3 membikin saya mesti bergegas. Saya khawatir kemalaman tiba di puncak dan kesulitan mencari lokasi nyaman mendirikan tenda.<\/p>\n\n\n\n

Melihat kondisi Pos 3 Sedelupak Roto, saya berencana mendirikan tenda di sini usai mendaki hingga Puncak Gunung Sumbing. Beberapa titik sudah saya survey sebagai calon lokasi mendirikan tenda. Berdasar hitungan saya, perjalanan menuju puncak membutuhkan waktu empat jam dari Pos 3, perjalanan kembali ke Pos 3 saya prediksi sekitar satu jam. Jadi jika hitung-hitungan ini sesuai, sebelum hari benar-benar gelap tenda saya sudah berdiri di Pos 3.<\/p>\n\n\n\n

Dari Pos 2 hingga Pos Watu Kotak, perjalanan saya ditemani kabut yang perlahan turun. Keberadaan kabut membantu menghalangi sinar matahari langsung menerpa tubuh. Cuaca menjadi sejuk membantu memudahkan perjalanan. Kurang dari dua jam saya tiba di Watu Kotak. Setelah istirahat sebentar saya melanjutkan perjalanan menuju Puncak Gunung Sumbing. Jalur mendaki dengan batu-batu memenuhi jalur dan vegetasi yang semakin jarang menjadi pemandangan sepanjang pendakian menuju puncak. Sore yang berkabut dengan angin bertiup cukup kencang menyambut kedatangan saya di puncak. Puncak sudah ramai oleh aktivitas pendaki. Hitungan cepat saya, ada lebih dari 15 pendaki di puncak.<\/p>\n\n\n\n

Kurang dari 15 menit saya berada di puncak lalu bergegas turun. Keputusan saya lekas turun ini menjadi keputusan yang betul-betul saya sesali. Di jalur sepi menjelang tiba kembali di Watu Kotak, empat orang pria menghadang saya. Dari penampilannya, saya menduga mereka warga lokal, bukan pendaki. Dua orang dari mereka menyeret saya menjauhi jalur pendakian. Dua lainnya berjaga-jaga di jalur pendakian.<\/p>\n\n\n\n

Di sela-sela pohon edelweis, dua orang itu meminta seluruh barang bawaan saya. Keduanya meminta sembari mengancam saya dengan masing-masing memegang sebuah parang. Saya tak bisa melawan dan tak berani melawan. Dengan pasrah saya menyerahkan seluruh barang bawaan saya. Seluruhnya kecuali yang menempel di tubuh saya. Saku celana juga mereka paksa untuk di kosongkan. Setelah berhasil merampas seluruh barang bawaan saya, merek berempat bergegas pergi. Dalam kondisi ketakutan tanpa barang bawaan apapun, bahkan tidak dengan setetes air sekalipun. Saya bergegas turun gunung. Saya berlari menuruni gunung. Berlari karena ketakutan, berlari karena khawatir malam lekas datang sedang tak ada lampu senter sebagai alat bantu menerangi jalan.<\/p>\n\n\n\n

Tak ada pikiran untuk menunggu pendaki lainnya turun. Yang ada di pikiran saya hanya lekas turun, lekas turun, bersegera turun. Beberapa pendaki yang saya jumpai ketika saya berlari turun sama sekali tak saya hiraukan. Kira-kira setengah jam sebelum saya tiba di jalan desa, malam tiba. Ini hanya perkiraan saja karena jam tangan dan hape tempat biasa saya melihat waktu-waktu untuk diingat dan dicatat turut raib bersama seluruh barang lainnya. Dalam kondisi normal, mustahil saya bisa secepat itu kembali ke basecamp. Ketakutanlah yang membantu saya turun gunung dalam waktu cepat.<\/p>\n\n\n\n

Saya melaporkan kejadian perampokan yang saya alami di basecamp. Pengelola basecamp dan para pendaki yang ada di basecamp berusaha menenangkan saya. Malam hari saya tak bisa tidur. Ketakutan masih menghantui saya. Pagi harinya saya di antar ke jalan raya tempat bis jurusan Wonosobo-Magelang melintas. Pengelola basecamp juga membekali saya uang Rp20 ribu untuk ongkos pulang Magelang-Yogya. <\/p>\n\n\n\n

Gunung Sumbing betul-betul memberikan trauma mendalam pada saya. Hingga kini, jika mengingat kejadian itu, saya masih sulit menerima kejahatan semacam itu bisa saya alami, dan di tempat yang sama sekali sulit saya duga.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Trauma yang saya alami, hanya sebatas pada Gunung Sumbing, mendaki Gunung Sumbing. Lain halnya dengan Kabupaten Temanggung tempat sebagian wilayah Gunung Sumbing masuk di dalamnya. Desa-desa yang terletak di kaki Gunung Sumbing, malah menjadi desa yang kerap saya sambangi, di Kecamatan Tembarak, Kecamatan Bulu, dan beberapa kecamatan lainnya. Saya banyak belajar dari petani-petani tembakau yang tinggal di desa-desa di kaki Gunung Sumbing yang masuk wilayah Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Mobil Slamet
<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Ketertarikan saya akan Temanggung dan para petani tembakau di sana, bermula dari film komedi favorit saya. Film komedi yang juga menyelipkan kritik-kritik terhadap kondisi sosial masyarakat negeri ini. Berikut saya narasikan cuplikan adegan dalam film itu:<\/p>\n\n\n\n

Di aula gedung kampus, Selamet, Paijo, Sanwani dan Rita, serta beberapa mahasiswa lainnya bergerombol di depan papan pengumuman. Di papan, ada pengumuman dengan ukuran tulisan yang cukup besar: \u201cCamping, Jambore ke 30 di Puncak.\u201d Sembari melirik ke arah Selamet, Paijo berujar, \u201cYang nggak punya mobil, boleh nebeng sama temennya. Itupun kalau temennya mau. Sekarang harga bensin mahal.\u201d Kemudian Paijo pergi sembari menggandeng Rita.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet tersinggung. Provokasi dari Paijo berhasil. Sanwani dengan karakter betawinya membumbui provokasi Paijo. Ia lantas berujar kepada Selamet, \u201cHeh, kalo elu bener-bener anak orang kaya, minte beliin mubil dong ame babe lu!\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Tanpa pikir panjang, Selamet langsung bereaksi, \u201cOk. Sekarang juga saya tulis surat kilat, minta uang.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

Begini isi surat Selamet kepada Bapaknya di Temanggung:<\/em><\/p>\n\n\n\n

Bapak yang Terhormat,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Kalau Bapak masih menghendaki saya untuk terus kuliah, saya minta agar Bapak segera mengirimkan uang untuk membeli mobil. Yang kuliah di sini, semuanya anak-anak orang kaya. Cuma saya yang tidak punya mobil, dan sudah bosan naik bajaj. Saya sebagai anak petani tembakau yang terkaya, terlalu dihina. Jakarta memang kota keras, kalah bersaing akan digilas.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Sembah sujud, putramu,<\/em><\/p>\n\n\n\n

Selamet.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Mengenakan pakaian khas jawa lengkap dengan blangkonnya, sesekali cerutu yang terselip di antara jemari tangan kanannya ia isap sembari terus membaca surat. Membaca surat yang dikirim oleh anak kesayangannya, Bapak dari Selamet naik pitam. Selesai membaca surat, ia menggebrak meja, lalu berteriak, \u201c Kurang ajar! Jangan kata baru mobil, kalau perlu, Jakarta kalau mau dijual aku beli. Wong Jakarta terlalu menghina karo wong desa.\u201d Segera ia memanggil pembantunya, memintanya mengirim uang untuk Selamet. Dikirim kilat.<\/em><\/p>\n\n\n\n

Adegan di atas merupakan cuplikan dari film berjudul Gengsi Dong. Film produksi tahun 1980 ini diperankan oleh Dono, Kasino, dan Indro yang tergabung dalam grup Warkop DKI dan Camelia Malik, sebagai pemeran utama. Film ini berkisah tentang dunia perkuliahan dan kehidupan mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga. Paijo (diperankan oleh Indro) berasal dari keluarga kaya anak juragan minyak. Sanwani (diperankan oleh Kasino) anak betawi asli yang sengak dan ngocol. Bapaknya membuka usaha bengkel mobil di rumah, kondisi ini membuat ia bisa berlagak kaya dengan gonta-ganti mobil milik pelanggan Bapaknya. Selamet (diperankan oleh Dono) anak petani tembakau sukses di Temanggung, merantau ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Selama di kampus, ia menjadi bulan-bulanan Paijo dan terutama Sanwani. Ada saja ulah mereka untuk mengusili Selamet yang lugu dan polos.<\/p>\n\n\n\n

Masa kecil saya berada pada zaman di mana waktu libur sekolah dan libur hari raya diisi dengan tayangan televisi yang memutar berulang-ulang film-film yang diperankan oleh grup Warkop DKI. Ini tentu sangat menyenangkan karena saya sangat menyukai film-film Warkop DKI. Selain di film Warkop DKI, akan sulit menemukan kelucuan-kelucuan, sindiran-sindiran dan perempuan-perempuan cantik berbalut pakaian seksi dalam satu frame saat itu. Kelucuan dan sindiran dalam film Gengsi Dong bercampur sekaligus, mengajak tertawa sekaligus berpikir tentang dikotomi desa vs kota, dan sikap-sikap meremehkan petani, anak petani, meskipun mereka berasal dari keluarga petani sukses dan kaya raya di desa.<\/p>\n\n\n\n

Kondisi sosial yang dikritisi Warkop DKI di periode 80-an masih terus berlangsung hingga hari ini. Banyak dari kita tentu pernah mendengar dan cukup familiar dengan kata \u2018ndeso\u2019. Kata-kata \u2018ndeso\u2019 biasa digunakan untuk menyindir. \u2018Ndeso\u2019 dipakai sebagai ungkapan untuk merendahkan, menganggap ia yang dibilang \u2018ndeso\u2019 terbelakang, tak berpendidikan dan kurang pengetahuan. Tentu saja \u2018ndeso\u2019 berasal dari kata \u2018desa\u2019. Ini aneh dan mengusik nalar saya. Meskipun pada akhirnya \u2018ndeso\u2019 digunakan sebagai candaan belaka, saya masih belum bisa menerima, tetap saja candaan itu merendahkan, dan \u2018desa\u2019 menjadi alatnya. Karena tanpa desa dan sumber daya alam dan manusia di desa, negeri ini tak akan ada. Jadi tidak sepantasnya kata desa dijadikan alat untuk meremehkan atau sekadar candaan.<\/p>\n\n\n\n

Selamet yang berasal dari desa dan anak petani, menjadi kombinasi yang pas untuk menjadi bulan-bulanan anak-anak kota. Meskipun orang tua Selamet seorang petani kaya raya, itu bukan alasan untuk berhenti memandang sebelah mata Selamet. Karena ia tetaplah anak desa, dan, anak petani.<\/p>\n\n\n\n

\"\"<\/figure><\/div>\n\n\n\n

Lewat jalur yang cukup rumit inilah saya jadi kenal Temanggung, dan tertarik lebih dalam untuk kian mengenalnya. Lewat film komedi, ditambah dengan kunjungan ke dua gunung yang mengapit Kabupaten Temanggung tempat desa-desa yang dihuni petani dengan tembakau sebagai komoditas andalan mereka saya tertarik dan akhirnya bisa berinteraksi langsung dengan para petani tembakau di Desa Kledung dan Desa Garung.<\/p>\n\n\n\n

Lalu bagaimana dengan kondisi petani saat ini? Masih belum jauh berbeda. Pada kasus tertentu, sikap-sikap merendahkan petani kian menjadi. Ini beriringan dengan budaya modernisme yang terus-menerus dipuja seakan tanpa cela. <\/p>\n\n\n\n

Untuk kasus petani tembakau sebagai contoh, mereka bukan saja sekadar diremehkan dalam pergaulan sosial, akan tetapi mereka hendak digembosi secara ekonomi. Banyak gerakan yang mengatasnamakan kepedulian terhadap kesehatan berusaha keras menghalangi petani tembakau untuk terus menanam tembakau. Padahal, tembakau berhasil mengangkat taraf hidup mereka, memutar dengan lebih cepat roda perekonomian desa, membuka banyak peluang kerja bagi banyak orang.<\/p>\n\n\n\n

Melihat fenomena semacam ini, saya tentu setuju dengan Bapak dari Selamet, mereka yang terus menerus mencoba menggembosi petani memang, kurang ajar!<\/p>\n\n\n\n

Dua tahun belakangan, saya bukan hanya sekadar bisa berinteraksi dengan petani-petani tembakau di Temanggung. Lebih dari itu, saya bekerja bersama-sama petani tembakau Temanggung dalam program beasiswa pendidikan bagi anak-anak petani dan buruh tani tembakau di 12 kecamatan di Temanggung. Program ini memberi kesempatan saya lebih jauh lagi. Bukan sekadar mengenal petani, tetapi saya juga bisa berinteraksi banyak dengan anak-anak mereka, dan memantau langsung perkembangan belajar mereka di tingkat SMA.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, kenangan buruk yang memicu trauma mendalam bagi saya terus tersimpan. Ketika itu, nyawa saya betul-betul terancam. Dua kali terancam. Terancam lewat senjata tajam empat orang perampok yang merampok saya. Terancam karena tak ada bekal sama sekali setelahnya padahal saya masih berada tak jauh dari puncak gunung dan hari sudah hampir memasuki malam. Peluang saya tersesat ketika itu begitu besar. Namun, di desa-desa penghasil tembakau di Kaki Gunung Sumbing, saya banyak belajar tentang hidup dan kehidupan, yang pada akhirnya menjadi bara api penyemangat agar selalu menjalani hidup sebaik-baiknya dalam balutan kesederhanaan.<\/p>\n\n\n\n

Di Puncak Gunung Sumbing, saya begitu dekat dengan kematian, di desa-desa di kakinya, saya menemukan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n

***<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Kami\u2014saya dan pemuda asal Temanggung yang duduk di sebelah saya dalam kereta api\u2014berpisah di Stasiun Lempuyangan, Yogya. Saya kembali ke rumah kontrakan saya, Ia melanjutkan perjalanan ke Temanggung bersama Kakak Iparnya yang sudah sejak setengah jam sebelum perpisahan kami tiba di Stasiun Lempuyangan.
<\/p>\n","post_title":"Sedikit Cerita Perihal Mudik dan Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sedikit-cerita-perihal-mudik-dan-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-06-13 06:00:39","post_modified_gmt":"2019-06-12 23:00:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5782","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5767,"post_author":"878","post_date":"2019-05-31 08:15:32","post_date_gmt":"2019-05-31 01:15:32","post_content":"\n

Gerakan Anti-Tembakau dan Hari Tanpa Tembakau Sedunia adalah penyakit yang mesti dilawan dan dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Hari kedua di Temanggung, Rabu, 8 Mei 2019. Saya terjaga saat waktu makan sahur hampir usai. Pertandingan sepak bola antara Liverpool vs Barcelona masih berlangsung. Skor pertandingan 3-0 untuk Liverpool. Hasil akhir pertandingan itu pada akhirnya menjadi salah satu hasil mengejutkan di Liga Champions Eropa tahun ini.<\/p>\n\n\n\n

Selepas sahur, saya menyusun berkas anak-anak yang rumahnya akan saya kunjungi di hari itu. Ada delapan rumah yang mesti saya kunjungi. Empat di Kecamatan Kedu, empat lainnya di Kecamatan Temanggung. <\/p>\n\n\n\n

Catatan saya sebelumnya, perihal wabah penyakit yang begitu berbahaya bagi sektor pertembakauan, wabah penyakit yang memang sengaja diciptakan untuk menghancurkan pertanian dan industri tembakau, menghantui perjalanan saya pada hari kedua. Wabah penyakit bernama 'Gerakan Anti Tembakau' yang hari ini merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Ia ibarat hama yang begitu merusak yang disebarkan oleh tangan-tangan yang memiliki cukup kuasa, bahkan dalam skala global. Maka, dalam kondisi sadar saya memutuskan untuk ikut dalam barisan yang melawan gerakan itu. Saya mesti berpihak. Dan saya berpihak kepada petani, buruh tani, juga mereka yang bekerja dan mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarga mereka dari sektor pertembakauan.<\/p>\n\n\n\n

Lebih lagi saya berjumpa langsung dan berbincang banyak dengan orang-orang yang keluarga mereka, memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sektor pertembakauan di Temanggung. Ada banyak. Cukup banyak. Beberapa di antaranya sudah saya kisahkan pada catatan sebelumnya. Lainnya, akan saya ceritakan pada catatan ini, dan di catatan-catatan selanjutnya. Semoga. <\/p>\n\n\n\n

*<\/p>\n\n\n\n

Seorang perempuan, saya perkirakan usianya baru memasuki 40-an, membukakan pintu rumahnya saat saya bertamu ke kediamannya pada rabu pagi yang dingin dan cerah. Orang-orang di kampungnya menyapa perempuan itu Mak Tul. <\/p>\n\n\n\n

Mak Tul menyilakan saya (dan seorang rekan asal Temanggung, yang menjadi pemandu lokal bagi saya) masuk ke dalam rumahnya dan duduk di kursi panjang membentuk huruf 'L' di ruang tamu rumahnya. Mak Tul ibu dari dua orang anak. Anak pertamanya laki-laki berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA setahun lalu, ia merantau bekerja sebagai buruh bangunan ke Jakarta.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sudah enam tahun belakangan Mak Tul menjadi penopang utama perekonomian keluarga. Ini terjadi sesaat usai suaminya mengalami kecelakaan kerja ketika menjadi buruh bangunan di Jakarta. Enam tahun lalu, suaminya terjatuh, atau kejatuhan benda, saya lupa tepatnya. Kecelakaan itu menyebabkan ia mengalami kelumpuhan mulai dari pinggang hingga telapak kaki.<\/p>\n\n\n\n

Setelah musibah itu, Mak Tul sehari-hari bekerja sebagai pemecah batu. Dari sana, ia membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga di rumah. Ia juga menabung. Uang tabungannya rencananya akan ia gunakan untuk melanjutkan pengobatan suaminya. Ia juga yang membiayai sekolah kedua anaknya.<\/p>\n\n\n\n

Apa cukup untuk membiayai semua itu hanya dari pemasukan sebagai pemecah batu? \"Mboten, Mas!\" Jawab Mak Tul singkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Mak Tul bekerja sebagai buruh pengrajin keranjang. Keranjang-keranjang ini nantinya akan digunakan sebagai wadah tembakau milik petani yang akan dijual ke pabrikan-pabrikan rokok. Pemasukan dari sana cukup membantu Mak Tul membiayai kebutuhan rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n

Anak kedua Mak Tul, seorang perempuan, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program beasiswa yang menjamin biayai sekolah SMK penuh sejak dari pendaftaran hingga ia lulus kelak. Adinda Dwi Pangesti nama anak Mak Tul. Dari 393 anak yang ikut tes tertulis program Beasiswa KNPK, nilai tes Adinda masuk tiga besar terbaik, di peringkat ke tiga. <\/p>\n\n\n\n

Adinda, menjadi satu dari 70 anak yang tahun ini menerima Beasiswa KNPK Temanggung. Beasiswa untuk anak-anak petani dan buruh tani tembakau yang seluruh biayanya, tentu saja dananya didapat dari sektor pertanian dan industri pertembakauan. Sudah sejak 2011 program beasiswa ini bergulir, dan masih akan terus bergulir setidaknya selama sektor pertembakauan masih dalam kondisi sehat. Per tahunnya, rata-rata 100 anak mendapat beasiswa penuh sejak masuk sekolah tingkat SMK hingga mereka lulus.<\/p>\n","post_title":"Hari Tanpa Tembakau Sedunia Adalah Peyakit","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hari-tanpa-tembakau-sedunia-adalah-peyakit","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-31 08:15:38","post_modified_gmt":"2019-05-31 01:15:38","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5767","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5765,"post_author":"878","post_date":"2019-05-30 10:17:38","post_date_gmt":"2019-05-30 03:17:38","post_content":"\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5755,"post_author":"878","post_date":"2019-05-25 09:54:11","post_date_gmt":"2019-05-25 02:54:11","post_content":"\n

Khoirul dan Siti, Ibu dari Khoirul, tinggal di rumah berukuran lima kali enam meter dengan dinding batu bata, dan lantai tanah. Lima buah kursi kayu dan sebuah meja kayu di ruang utama. Pada sudut ruangan, sebuah lemari kayu berpintu kaca menghadap jendela utama rumah. Selain Khoirul dan Ibunya, di rumah itu tinggal adik dari Khoirul usia enam tahun.<\/p>\n\n\n\n

Untuk mencapai rumah Siti, dari jalan kampung tempat memarkir sepeda motor, kami mesti melewati jalan setapak menanjak dengan lebar jalan kurang dari satu meter. Tidak jauh memang, sekira 53 meter saja. <\/p>\n\n\n\n

Saya duduk membelakangi pintu. Saling berhadapan dengan Khoirul dipisahkan sebuah meja. Siti duduk di sebelah kiri Khoirul. Menghadap pintu masuk rumah. Khoirul mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus oblong berwarna putih. Sedang Siti masih mengenakan pakaian dinas berkebun.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a>
Baca:
Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sehari-hari, Siti bekerja sebagai buruh. Buruh di kebun dan buruh di sebuah restoran dengan menu utama sate. Pagi hari, selepas makan Siti berangkat ke kebun, menggarap kebun pertanian. Cabai, tomat, terong, dan beberapa komoditas lainnya ia tanam dan rawat di kebun hingga panen kelak. Pada musim kemarau, tembakau menjadi satu-satunya komoditas yang ia tanam.<\/p>\n\n\n\n

Siang hari, usai istirahat sejenak di rumahnya, Dusun Luwihan, Kecamatan Bulu, Siti berangkat ke Pusat Kecamatan Parakan. Ia datang ke salah satu restoran di sana untuk bekerja, bekerja menusuk potongan-potongan daging menggunakan bambu yang telah dipotong dan diruncingkan. Sebelum maghrib, Ia pulang.<\/p>\n\n\n\n

Pada musim panen tembakau, Siti cuti dari pekerjaan di Parakan. Ia fokus bekerja sebagai pemanen tembakau dan penjemur tembakau yang baru selesai dipanen. Siti, petani tanpa ladang. Ia bekerja dari ladang satu ke ladang lain yang bukan miliknya. Mengumpulkan uang dari sana untuk menghidupi kedua anaknya. <\/p>\n\n\n\n

Siti memiliki tiga orang anak. Anak pertamanya, sudah menikah. Ia tinggal bersama keluarganya di luar dusun. Masih satu desa.<\/p>\n\n\n\n

Khoirul, anak keduanya, tahun ini lulus SMP. Ia mendaftar program Beasiswa KNPK karena ingin melanjutkan sekolah di SMKN 1 Temanggung. Nilai tes tertulis Khoirul, cukup memuaskan. Memenuhi standar yang ditetapkan KNPK. <\/p>\n\n\n\n

Saat mengetahui saya adalah salah satu anggota tim verifikasi beasiswa KNPK, Siti berusaha tetap bersikap tenang. Namun raut wajah, dan binar matanya memancarkan harapan. Sudah. Sebatas itu saja. Tak ada secuil pun Ia berujar tentang harapan itu kepada saya. <\/p>\n\n\n\n

Tentu saja saya merekomendasikan Khoirul lolos program beasiswa ini saat rapat pleno tim verifikasi Beasiswa KNPK. Semua setuju dengan rekomendasi saya. Namun itu tak saya beritahukan ke Siti dan Khoirul. Sepekan usai perjumpaan itu, Khoirul dan Siti baru tahu lewat pengumuman resmi yang kami keluarkan.<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-4","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-25 09:54:18","post_modified_gmt":"2019-05-25 02:54:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":9},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};