\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6477,"post_author":"919","post_date":"2020-02-24 09:56:11","post_date_gmt":"2020-02-24 02:56:11","post_content":"\n

Mandra sering menyanyikan satu lagu dalam film Si Doel. Lagu tersebut dianggapnya mewakili perasaan hati, tentang bagaimana nasib seseorang bisa berubah. Kira-kira beginilah liriknya \u2018ade senang tentu ade sedih, seperti roda pedati, nasib orang berputar berganti\u2019. <\/em>Maklum saja, pasalnya dalam film Si Doel, Mandra mengalami nasib yang selalu kurang mujur, baik cinta atau pun keuangan. Sedangkan dalam kehidupan nyata, nasib itu berbeda sekali dengan seorang Fadjroel Rachman. Dahulu kesusahan sekarang bergelimpangan kekuasaan.
<\/p>\n\n\n\n

Sosok Fadjroel Rachman yang saya ketahui sekitar akhir 2009 lalu adalah sosok yang garang. Waktu itu saya baru saja menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Fadjroel Rachman tampak mempesona ketika memimpin aksi mahasiswa dalam upaya penggulingan rezim otoritarian Soeharto. Aksinya terekam dalam video berbagai pergerakan mahasiswa yang bisa anda saksikan di youtube. Percayalah, momen kala dirinya memimpin sumpah mahasiswa adalah bagian yang paling menggairahkan untuk disaksikan.
<\/p>\n\n\n\n

Fadjroel Rachman memang bukan sosok yang saya idolakan betul tak seperti tokoh lainnya yaitu Soe Hok Gie. Akan tetapi, saya yang saat itu masih mahasiswa memandang bahwa Fadjroel Rachman adalah salah satu bekas aktivis mahasiswa yang patut diteladani. Apalagi, gairah pergerakan saat juga lagi tumbuh-tumbuhnya. Ibarat fase pertumbuhan manusia, saya ada di posisi yang sedang puber-pubernya.
<\/p>\n\n\n\n

Saat puber-pubernya itu saya juga sering mendapatkan pendapat sinis dari teman-teman dan tak jarang keluarga. Mereka menyebut bahwa jadi aktivis itu garang pas mahasiswa tapi lembek saat sudah berada di dalam pemerintahan. Beberapa tahun berselang, saya sih masih begini-begini saja dan pernyataan sinis di atas belum terbukti, toh pun saya belum masuk dalam pemerintahan. elah dalah, Fadjroel Rachman yang dulunya sosok yang saya kagumi justru sudah berselancar dalam kekuasaan. Wajah Fadjroel Rachman tak segarang dulu, kini tampak lebih seperti bapak-bapak biasa yang kita sering temui di transportasi umum Jakarta. Ucapannya tak lagi sekeras dahulu, tutur katanya kini lembut bak seorang motivator yang selalu sukses membuat anak nakal di SMA menangis tersedu-sedu. 
<\/p>\n\n\n\n

Tapi mirisnya, pernyataan Fadjroel Rachman saat ini sering menuai kontroversi di kalangan masyarakat. Salah satu pernyataannya yang bikin saya garuk-garuk kepala dan dongkol adalah rokok dianggapnya sebagai biang kemiskinan masyarakat Indonesia. Lah kok<\/em> bisa ya<\/em> aktivis yang garang dulunya sekarang ngomongnya kayak gini. Bukankah jadi aktivis itu lebih paham soal kemiskinan ya dan segala data-data dari pemerintah yang sifatnya manipulatif itu. Justru Fadjroel Rachman kini malah jadi corong statistik yang manipulatif tersebut pula.
<\/p>\n\n\n\n

Begini Kak Fadjroel Rachman yang (pernah) saya kagumi. Kemiskinan itu sistemik, dan negara berperan besar dalam problem kemiskinan itu. Ketika negara tak mampu hadir memberikan lapangan pekerjaan, akses pendidikan, dan fasilitas publik yang inklusif, maka ya negara menyumbang besar problem kemiskinan tersebut. Bukan kemudian mempermasalahkan rokok karena berdasarkan bacaanmu yang salah soal data statistik tersebut. Coba baca lagi, di data tersebut disebutkan bahwa beras adalah komoditas terbesar yang memberi kontribusi terhadap garis kemiskinan. Lantas kenapa anda juga tidak menyalahkan masyarakat Indonesia yang membeli beras? hayo<\/em>!
<\/p>\n\n\n\n

Kak Fadjroel Rachman yang budiman, sebuah statistik itu harus dibaca dengan seksama dan jangan dibingkai dari sudut pandang tertentu yang justru menyesatkan. Kalau mau sama-sama membingkai sebuah data statistik, saya bisa beranggapan bahwa tingginya konsumsi beras, rokok, telur, daging, dan mie instan karena memang ini menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia itu sendiri. Pola konsumsi yang bertahan sekian lama membuat masyarakat memang melakukan repetisi membelanjakan uangnya untuk membeli komoditas di atas. Justru ini menurut saya tidak menyesatkan, yang bikin masyarakat miskin ya komoditas tersebut yang kian mahal. Pemerintah tak mampu mengontrol pasar dan juga menaikkan tarif cukai seenaknya. 
<\/p>\n\n\n\n

Apa Fadjroel Rachman memang sudah lupa sama ragam-ragam teori dan diskursus soal kemiskinan yang sering kalian diskusikan saat mahasiswa dulu? apa jangan-jangan benar yang dikatakan oleh Rizal Ramli bahwa anda hanya modal cuap-cuap<\/em> doang biar bisa jadi modal masuk pemerintahan? ohya anda sowan<\/em> dulu gih sama Rizal Ramli, katanya gara-gara dia anda bisa kuliah lagi di Universitas Indonesia loh<\/em>. hehehe.<\/em><\/p>\n","post_title":"Surat Seorang Perokok untuk Fadjroel Rachman Tercinta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"surat-seorang-perokok-untuk-fadjroel-rachman-tercinta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-24 09:56:13","post_modified_gmt":"2020-02-24 02:56:13","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6477","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6455,"post_author":"919","post_date":"2020-02-16 10:24:06","post_date_gmt":"2020-02-16 03:24:06","post_content":"\n

Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak. Tak ada bintang yang nampak di langit kota. mendung sedari tadi terus memayungi, diselingi dengan petir dan angin yang kencang berhembus. Perlahan-lahan hujan pun turun. Dimulai dari gerimis lalu semakin deras. Bau tanah yang naik akibat hujan, sedikit demi sedikit membangkitkan memori. Aku gelisah, tak tenang, kuambil sebatang rokok di meja, kuhisap dalam-dalam, dan kuputar lagu \u2018Pilu Membiru\u2019 milik Kunto Aji. Setelah itu, inilah yang terjadi padaku..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Tak banyak yang tahu bahwa musik adalah salah satu fasilitas penting dalam ilmu psikologi. Musik memiliki sifat yang universal. Musik mampu menyediakan jembatan alami antara individu dengan individu lain, dengan lingkungan, memfasilitasi hubungan, ekspresi diri, dan komunikasi (Do 2012). Menitik beratkan pada kegunaan untuk ekspresi diri, musik bisa menjadi satu metode terapi untuk melepaskan seseorang dari beban pikirannya. Seperti yang kita ketahui bahwa beban pikiran jika diakumulasikan akan mengakibatkan gangguan jiwa yang luar biasa hebatnya.
<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, lagu Pilu Membiru bikinan Kunto Aji adalah satu eksperimen psikologi yang coba ia buat. Anda bisa melihat video yang diupload olehnya di youtube<\/a> berisikan bagaimana lagu ini kemudian didengarkan pada seseorang dalam konsep dan ruangan yang sudah diatur sedemikian rupa. Selain itu selain lagu ini dimainkan, ada seorang psikologi yang juga mendampingi serta memberi pertanyaan bagi pendengar lagu tersebut. Hasilnya? luar biasa dahsyatnya. Saya kira video yang tayang dengan durasi waktu sekitar delapan menit ini bisa membuktikan kebenaran relasi antara musik dan psikologi.
<\/p>\n\n\n\n

Apa yang kemudian digambarkan dalam video tersebut sebenarnya mengajak kita untuk sedikit merefleksikan permasalahan diri dalam bentuk apa pun. Kita bisa mencobanya sambil berendam di bathtub<\/em>, kontemplasi di alam bebas, di kamar, taman, atau bisa sambil menikmati minuman hangat, bisa juga dengan sebatang rokok. Tingkat kenyamanan sangat berpengaruh dalam menikmati lagu ini dan tenggelam dalam relung jiwa.
<\/p>\n\n\n\n

Seorang peneliti bernama David O\u2019Reilly menyebutkan bahwa kandungan nikotin dalam sebatang rokok bisa membantu merangsang otak dan membuat otak lebih tenang. Tentu kita sebagai seorang yang merokok pasti sudah tahu betul betapa dahsyatnya nikmat setiap hisapan. Sebagai seorang perokok juga, kita mampu dibawa dalam kenyamanan berpikir serta mendorong tubuh kita untuk sedikit rileks. Saya sangat yakin ditambah medium musik maka semuanya akan lebih baik.
<\/p>\n\n\n\n

Sebatang rokok yang aku hisap nyaris berdurasi sama dengan lagu \u2018Pilu Membiru.\u2019 Tubuhku yang tadinya sangat rileks tiba-tiba bergetar akibat goncangan dalam jiwa. Akhirnya semua memori yang terekam jelas itu kembali naik dari hati menuju pikiran, mengingatnya kembali dengan sangat gamblang. Seperti hujan yang turun malam ini, air mata juga tiba-tiba jatuh perlahan. Sebatang rokok kuhisap kembali, lagunya kuputar kembali, namun air mata ini tak kubiarkan untuk berhenti jatuh. Semuanya kembali tenang..<\/em>
<\/p>\n\n\n\n

Kunto Aji menyebutkan bahwa tangisan adalah itu sistem pertahanan kita untuk bisa terbebas dari stress. Tangisan hadir mungkin karena kita yang tak mampu atau gagap menghadapi memori yang hadir. Pilu Membiru dibuat oleh Kunto Aji untuk mengajak kita bisa lebih tepat menghadapi memori yang hadir tersebut. \"Dan yang dibenerin adalah bukan kita melupakan memori dengan orang ini. Tapi bagaimana kita merespon ketika ingat memori tentang orang itu,\" ucap Kunto Aji saat diwawancarai oleh Najwa Shihab. 
<\/p>\n\n\n\n

Mental disorder atau gangguan jiwa adalah satu hal yang sangat berbahaya. Survei Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Disisi lain banyak yang kemudian salah dalam mengantisipasi dan memperlakukan gangguan jiwa tersebut. Mengantisipasi gangguan kejiwaan paling mudah adalah dimulai dari diri sendiri. Mulai terbuka, berbagi beban, dan meluangkan waktu untuk menenangkan pikiran. Lagu-lagu Kunto Aji dalam album Mantra-Mantra bisa anda gunakan, dan bagi para perokok, bisa juga dengan medium menghisap rokok. Selamatkan dirimu, selamatkan jiwamu, karena yang seharusnya kau jaga adalah dirimu sendiri. <\/p>\n","post_title":"Aku Menghisap Rokok dan Mendengar Lagu Kunto Aji, Lalu Inilah yang Terjadi..","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-menghisap-rokok-dan-mendengar-lagu-kunto-aji-lalu-inilah-yang-terjadi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-16 10:24:09","post_modified_gmt":"2020-02-16 03:24:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6455","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6442,"post_author":"919","post_date":"2020-02-09 10:29:19","post_date_gmt":"2020-02-09 03:29:19","post_content":"\n

Saya masih ingat betul ketika pertama kali bertemu dengan sosok Vincent Ryan Rompies, seorang personil band bernama Club Eighties dan juga penyiar ternama di ibu kota. Saat sore hari di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, dia nampak menggunakan jersi arsenal berwarna kuning dengan celana pendek santai dan sedang berjalan-jalan bersama keluarganya di akhir pekan. Auranya masih saja nampak walau ia tidak sedang di depan kamera atau pun di atas panggung. Mulai saat itu, saya memang langsung mengaguminya. Tak banyak publik figur yang auranya bertahan ketika melepaskan dirinya sebagai seorang tokoh dan melebur bersama masyarakat di sekitarnya.
<\/p>\n\n\n\n

Jauh sebelum itu, saya hanya mengenal Vincent Rompies lewat kaca. Berterimakasihlah kepada Global TV (saat ini bernama GTV) yang masih rutin menampilkan acara MTV. Dari tayangan musik di televis itulah saya kemudian mengenal sebuah band bernama Club Eighties. Band yang beranggotakan lima alumni IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dengan mengusung jenis musik pop dengan nuansa tahun 1980an. Dua diantara personilnya kini aktif menghibur masyarakat di layar kaca, satunya Vincent Rompies, satunya lagi adalah Desta Mahendra.
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies bisa dikatakan sebagai prince dari Club Eighties. Jujur, saat melihat ia tampil di atas panggung pesonanya sangat berbeda dengan apa yang ia tampilkan di depan layar kaca. Sambil membentot bassnya, ia sesekali menarik hisapan dari sebatang rokok dan memasang muka yang dingin dan angkuh. Sikap seperti ini yang kemudian menjadikan dirinya banyak digemari terutama oleh para perempuan. Apalagi, dalam satu kesempatan, Vincent Rompies pernah hampir telanjang bulat saat manggung dalam sebuah pensi di satu SMA di Jakarta. Waktu itu Vincent Rompies hanya menggunakan boksernya saja di atas panggung.
<\/p>\n\n\n\n

Kisah soal ini memang menjadi urban legend diantara penikmat musik dan mereka yang antusias menghadiri konser musik. Bersyukurnya, pada akhirnya Vincent Rompies kemudian menceritakannya dengan gamblang saat diwawancarai oleh eks wartawan Rolling Stone Indonesia, Soleh Solihun. Vincent Rompies menyebutkan bahwa ia memang punya ritual khusus saat manggung yaitu dengan bertelanjang diri bahkan tak sehelai benang pun membalut tubuhnya. Walau diakuinya ritual tersebut sempat membuatnya harus berurusan dengan polisi. 
<\/p>\n\n\n\n

Sikap dan aksinya di atas panggung menunjukkan bahwa Vincent Rompies adalah seorang rockstar sejati. Tapi lain di atas panggung lain pula gaya dan pesona Vincent Rompies saat menjadi seorang penyiar. Bersama rekan sebandnya, Desta Mahendra, kini duo tersebut menjelma menjadi host nomor wahid di Indonesia. Joke yang spontan dengan intuisi yang kuat di antara kedua individu tersebut membuat keduanya kini dinanti-nanti oleh pemirsa. 
<\/p>\n\n\n\n

Vincent Rompies mengakui bahwa kariernya di dunia hiburan kembali melonjak setelah mengisi sebuah acara bernama ups salah. Saat itu dia ditugaskan sebagai seseorang yang mengerjai siapa saja yang ingin dikerjai. Program ini berjalan sukses walau akhirnya ia sempat digantikan oleh Wendy Cagur. Dari program Ups Salah ini pula Vincent Rompies mengakui dirinya mendapat tambahan pengetahuan yaitu ilmu cara berbicara walau dengan spontan. 
<\/p>\n\n\n\n

Dari kedua sisi tersebut, ada satu sisi yang sebenarnya tersembunyi dalam jiwa seorang Vincent Rompies. Jika Soleh Solihun tak pernah mewawancarainya dan diunggah ke youtube, kita tak akan tahu bahwa dirinya adalah seorang introvert. Mencari kebahagiaan dan menciptakan kebahagian di mana-mana akan tetapi hatinya kosong. Di kala-kala seperti itu mungkin Vincent Rompies hanya bisa berbicara pada sebatang rokok yang ia hisap. Kita juga mengetahui bahwa Vincent Rompies adalah seorang perokok, dan diakuinya hingga saat ini ia juga tetap seorang perokok.
<\/p>\n\n\n\n

Tak sulit kemudian menjadikan seorang Vincent Rompies seorang idola. Seorang perokok yang bisa membagi dirinya dalam situasi apapun, baik di atas panggung, depan layar kaca, microphone radio, bahkan saat berakting. 
<\/p>\n\n\n\n

Sukses terus Vincent Rompies!<\/p>\n","post_title":"Tak Sulit untuk Mengidolakan Seorang Vincent Rompies","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tak-sulit-untuk-mengidolakan-seorang-vincent-rompies","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-09 10:29:20","post_modified_gmt":"2020-02-09 03:29:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6442","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6427,"post_author":"919","post_date":"2020-02-02 11:59:24","post_date_gmt":"2020-02-02 04:59:24","post_content":"\n

Neil Howe dan William Strauss dalam bukunya berjudul Millenials Rising memprediksikan satu potensi besar yang dimiliki oleg generasi millenial. Disebutkan dalam buku tersebut bahwa generasi milenial akan sepenuhnya membangun kembali citra anak muda yang suram dan terasing menuju hal yang optimistis dan terlibat dalam frekuensi pembangunan satu bangsa. Prediksi dua penulis besar tersebut kiranya tak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya dampak nyata dari kehebatan anak muda saat ini memang begitu luar biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Di Indonesia tersendiri kini pemerintah mencoba untuk lebih peduli terhadap kehebatan generasi muda mereka. Dengan berbagai metode tentu mereka coba agar ide-ide besar yang dilahirkan oleh generasi millenial bisa mampu mereka jembatani demi kebutuhan bangsa. Meski tak juga bisa kita pungkiri bahwa terkadang pemerintah yang didominasi oleh generasi tua memilih cara yang salah dan norak dalam menjembatani idea serta gagasan dua generasi yang berbeda ini.
<\/p>\n\n\n\n

Mengingat Indonesia adalah satu bangsa yang besar dengan sejarah dan tradisi budaya yang luar biasa, ada satu hal yang tak boleh hilang dari langgam gerak generasi millenial di tanah air. Kecanggihan teknologi dan informasi yang membuat generasi millenial Indonesia melek akan globalisasi juga harus diimbangi dengan kecintaan terhadap tanah air. Ini seperti mengutip pernyataan seorang Tan Malaka yaitu \u2018Belajarlah dari Barat, tapi jangan jadi peniru Barat, melainkan jadilah murid dari Timur yang cerdas.\u2019
<\/p>\n\n\n\n

\"kretek\"<\/figure>\n\n\n\n

Salah satu warisan budaya bangsa yang diberikan pendahulu kepada kita saat ini adalah Kretek. Di tengah derasnya produk rokok asing internasional di pasar tanah air, entah mengapa kretek masih saja mendominasi. Bicara soal citarasa, memang karakteristik lidah masyarakat nusantara memang tak pernah berbohong, boleh saja rokok asing beredar namun kretek tetap menjadi primadona. 
<\/p>\n\n\n\n

Saya kemudian tidak mengatakan bahwa anak muda harus merokok, bukan itu. Bagaimana pun peraturan tetap harus ditaati bahwa hanya yang sudah berusia di atas 17 tahun yang bisa membeli dan menikmatinya. Toh juga, banyak dari generasi millenial saat ini yang sudah memiliki usia di atas 17 tahun dengan dengan kesadaran penuh untuk menikmati rokok. Akan tetapi apresiasi tetap harus kita berikan kepada mereka para millenial yang kemudian tetap menikmati menghisap kretek sebagai bentuk upaya menjaga tradisi lokal.
<\/p>\n\n\n\n

Menjadi millenial juga tak perlu malu untuk menghisap kretek. Buktinya banyak juga beberapa anak muda yang sukses di bidangnya tetap menjadikan kretek sebagai temannya, Danilla misalnya. Siapa yang tak kenal sosok penyanyi perempuan satu ini. Danilla tetap menjadi sosok panutan, karyanya juga terus muncul, dan mendapatkan apresiasi serta penghargaan dari orang banyak. Di saat krisis identitas bangsa seperti saat ini, tentu butuh kaum millenial yang kembali menggali akar sejarah bangsa dan meneruskan tradisi budaya nusantara kita. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebuah bangsa yang besar tentu akan runtuh sendirinya jika masyarakatnya lupa terhadap kebesarannya dan kehebatan masa lalunya. Walau demikian hanya dengan mengagung-agungkan sejarah juga tak akan membuat bangsa kita maju. Refleksi terhadap keagungan masa lalu itu penting, namun kemudian menjaga tradisi serta nilai sebuah bangsa itu sendiri adalah satu langkah pasti dalam membangun negeri. Mari kaum millenial, lestarikan budaya bangsa, selamatkan kretek kita!<\/p>\n","post_title":"Milenial Konsumsi Kretek, Menjaga Asa Pelestarian Warisan Budaya Bangsa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"milenial-konsumsi-kretek-menjaga-asa-pelestarian-warisan-budaya-bangsa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-02 11:59:25","post_modified_gmt":"2020-02-02 04:59:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6427","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":5},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};