\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_title":"Menikmati Nasi Kretek, Kudapan Khas Gresik","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menikmati-nasi-kretek-kudapan-khas-gresik","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-12-10 14:52:36","post_modified_gmt":"2024-12-10 07:52:36","post_content_filtered":"\r\n

Selama ini kita mengenali kretek sebagai sebuah rokok khas Indonesia yang menggunakan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Kretek biasanya dinikmati dengan cara dibakar dan dihisap di waktu senggang. Akan tetapi pernahkah kalian membayangkan jika bisakah kretek dinikmati dengan cara lain? Misalnya dengan cara dimakan?<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawabannya tentu sangat bisa apabila kretek<\/a> dinikmati dengan cara dimakan. Akan tetapi buang jauh pikiran kalian jika harus memakan kretek yang berisikan tembakau, ramuan khusus, dan cengkeh di dalamnya. Bukan itu, kretek yang bisa dimakan adalah sebuah kudapan yang berasal Gresik, Jawa Timur.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Kretek adalah salah satu dari sekian banyak makanan khas Gresik. Secara penampilan kudapan tersebut memiliki kemiripan dengan Nasi Krawu yang juga khas dari Kota Santri tersebut. Kesamaannya antara dua makanan ini adalah lauk utamanya yaitu suwiran daging. Akan tetapi yang membedakan adalah rasa, toping, dan lauk pendampingnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Nasi Krawu biasanya disajikan dengan daun pisang dan tambahan toping seperti serundeng. Tak hanya itu Nasi Krawu juga biasanya dimakan dengan sambal terasi dan tambahan lauk seperti daging sapi, semur daging, dan jeroan sapi. Ini yang kemudian membedakan antara kudapan tersebut dengan Nasi Kretek yang tidak memiliki banyak lauk pendamping.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran daging di Nasi Kretek memiliki rasa yang pedas serta sedikit sensasi asam. Rasa pedasnya cukup menendang meski masih bisa dinikmati oleh mereka yang tidak menyukai makanan pedas. Sensasi asam yang didapatkan kemungkinan hadir dari buah asam atau perasan jeruk nipis sebagai bumbu dasar suwiran daging di makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suwiran dagingnya juga memiliki tekstur yang tebal serta berminyak. Bagi anda yang sedang menjalani program diet maka bisa dipastikan akan berpikir dua kali untuk menikmati makanan ini. Disarankan juga mengingat rasanya yang pedas serta teksturnya yang berminyak maka siapkan minuman hangat sebagai pendamping agar tenggorokan anda tidak mengalami panas dalam.<\/p>\r\n

Nasi Kretek yang Jarang Ditemui<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sayangnya Anda tak bisa dengan mudah menemukan Nasi Kretek ini di Gresik. Pasalnya kehadiran kuliner ini perlahan-lahan tenggelam dan bahkan tak semua warga di daerah tersebut mengetahuinya. Jika anda mengunjungi Gresik dan tengah beruntung maka bisa menemukan makanan ini di warung-warung kopi. Biasanya ditemukan dalam bentuk nasi yang sudah dibungkus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Harga satu bungkus Nasi Kretek ini sekitar 7 hingga 15 ribu rupiah tergantung di mana anda membeli. Jika di warung kopi pinggiran maka harga 7 ribuan bisa anda temui. Namun jika di kedai dan restoran mungkin harga sekitar 15 ribuan yang harus keluarkan untuk menikmati makanan ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebenarnya bukan hanya Gresik<\/a> yang memiliki kudapan bernama kretek. Di daerah lainnya yang juga di Jawa Timur yaitu Jombang juga mempunyai kudapan khas bernama serupa namun memiliki bentuk dan isi yang berbeda. Sebagai penikmat kretek tentu kudapan Nasi Kretek menjadi hal yang unik untuk kalian coba saat berkunjung ke Jawa Timur. Silahkan mencoba!<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6789","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6755,"post_author":"878","post_date":"2020-06-04 07:29:46","post_date_gmt":"2020-06-04 00:29:46","post_content":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_title":"Bersedekah dan Menabung dengan Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-23 12:35:39","post_modified_gmt":"2024-01-23 05:35:39","post_content_filtered":"\r\n

Hampir tiap komoditas pertanian, ketika memasuki musim panen, menjadi hari raya bagi para petani. Mereka akan bergembira, menyematkan harapan pada komoditas yang dipanen bisa memberikan hasil yang baik juga keuntungan mencukupi. Beragam upacara, syukuran, dan perayaan-perayaan kecil biasanya diselenggarakan mengiringi tibanya musim panen. Hampir semua komoditas begitu, termasuk juga komoditas cengkeh.

Di beberapa tempat di Kepulauan Maluku, ketika panen cengkeh tiba, para pemilik kebun cengkeh tidak memanen seluruh bunga cengkeh. Mereka menyisakan bunga cengkeh untuk dipanen oleh mereka yang tidak punya ladang, terutama untuk janda dan anak-anak yatim.

Tradisi ini sudah berlangsung ratusan tahun. Beberapa pemilik kebun cengkeh bilang, \"kebiasaan ini berguna untuk selalu mengingatkan agar manusia jangan rakus, dan saling berbagi kepada sesama.\"

Dari kebiasaan ini, komunitas juga ingin memastikan bahwa semua orang dalam komunitas bisa merasakan kebahagiaan dari hasil panen cengkeh tahunan. Mereka yang tidak punya kebun, juga bisa dapat rezeki di musim panen. Mereka diajak ikut merayakan musim panen, merasakan kebahagiaan dari bunga-bunga cengkeh yang dipetik dari tangkainya.<\/p>\r\n

Komoditas Cengkeh di Maluku<\/h3>\r\n

Di Kepulauan Maluku, cengkeh memang menjadi salah satu komoditas andalan sebagai penopang ekonomi keluarga. Di sanalah keberadaan cengkeh bermula, dan dari sana banyak tradisi dan kebiasaan baik terkait cengkeh berlangsung hingga kini.

Tradisi tidak memanen seluruh bunga cengkeh di pohon, dan menyisakannya untuk orang lain yang tidak punya ladang, hanya satu dari sekian banyak tradisi yang ada di seputar pertanian cengkeh di Maluku dan di Indonesia. Masih banyak lagi tradisi baik yang berkelindan dengan dunia pertanian cengkeh Nusantara.

Selain menyisakan cengkeh di pohon untuk dipanen siapa saja yang tidak punya kebun cengkeh, di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku, ada tradisi menarik dan baik lain di seputar pertanian cengkeh. Tradisi ini, menjamin masa depan pendidikan anak-anak di sana. Mampu menyingkirkan kekhawatiran tidak bisa menyekolahkan anak dengan baik.

Pohon cengkeh merupakan kayu keras. Ia cukup ditanam sekali lantas bisa hidup hingga puluhan bahkan ratusan tahun. Sejak tahun ke-6 atau ke-7 usai ditanam, cengkeh mulai berbunga dan bisa dipanen. Begitu terus tiap tahun sampai pohon mati.<\/p>\r\n

Musim Panen Cengkeh<\/h3>\r\n

Sekali musim panen, satu batang pohon cengkeh rerata menghasilkan 15 hingga 40 kilogram cengkeh kering. Di beberapa pohon, bahkan ada yang bisa mencapai 100 kg cengkeh kering tiap musim panen.

Harga rerata cengkeh tiap musim panen cukup menjanjikan (kecuali periode 90an karena ulah BPPC). Saat ini cengkeh kering dihargai antara Rp60.000 hingga Rp120.000 per kilogram. Pernah ada masanya harga cengkeh per kilogram mencapai Rp200.000

Karena potensi harga cengkeh yang menjanjikan ini, di beberapa tempat di Maluku, muncul tradisi menjadikan pohon cengkeh sebagai tabungan pendidikan anak-anak. Di sana, tiap kali seorang anak lahir, akan ditanam 5 hingga 10 pohon cengkeh. Saat anak memasuki usia SD, pohon cengkeh sudah menghasilkan. Itu yang digunakan untuk biaya sekolah anak, hingga mereka sarjana.

Dengan cengkeh, seorang anak terjamin sekolahnya hingga setinggi-tingginya. Jadi jangan heran jika di Maluku, dan di wilayah lain penghasil
cengkeh<\/a>, ada istilah sarjana cengkeh karena seluruh biaya sekolahnya dari hasil cengkeh.

Dua dari sekian banyak tradisi baik di seputar pertanian cengkeh ini, terancam tak bisa lagi dilestarikan karena gerakan anti-rokok lewat skema FCTC yang mereka gelontorkan. Jika FCTC berlaku di negeri ini, harga cengkeh bisa dipastikan anjlok karena cengkeh tidak bisa lagi digunakan menjadi bahan baku rokok kretek.

Sejauh ini, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional setiap tahunnya diserap oleh industri rokok kretek. Jika lewat skema FCTC, cengkeh menjadi haram hukumnya digunakan sebagai bahan baku rokok, lebih 90 persen hasil cengkeh nasional tak lagi bisa diserap. Harga cengkeh otomatis anjlok sampai ke titik paling rendah dalam sejarah. Tentu saja ini mengerikan. Sekuat tenaga mesti dilawan.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6755","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6679,"post_author":"878","post_date":"2020-05-23 10:59:45","post_date_gmt":"2020-05-23 03:59:45","post_content":"\n

Saya hidup bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kontrakan di wilayah utara Yogyakarta. Saya, seorang istri, dan seorang anak perempuan usia lima bulan. Rumah kontrakan kami berukuran delapan kali delapan meter. Tidak luas, juga tidak terlalu sempit. Tiga buah kamar, satu ruang utama, satu kamar mandi, selasar halaman rumah, dan sebuah dapur terpisah dari area delapan kali delapan meter itu menjadi bagian-bagian rumah kontrakan kami.

\nIstri saya, sejak kecil penderita asma cukup akut. Hingga hari ini, di rumah kami, Ia masih mesti menyediakan obat asma yang biasa dihirup. Saat ini memang sudah tidak setiap hari Ia menghirup obat asma, Ia menghirup hanya jika kambuh saja. Ini terjadi beberapa bulan belakangan. Sebelumnya setiap hari Ia mesti menghirup obat itu, sempat ada masanya sehari Ia dua kali menghirup obat itu, bisa sampai tiga kali atau lebih jika sewaktu-waktu kambuh, Ia mesti menghirup obat asma di luar jadwal yang ditentukan jika asmanya kambuh.

\nKondisi semacam ini, membikin kami mesti menyusun sebuah kesepakatan terkait ruang merokok di rumah kami. Saya perokok, bukan perokok berat, perokok yang biasa-biasa saja. Istri saya sama sekali tidak alergi atau anti dengan asap rokok, akan tetapi, asma yang dideritanya membikin saya mesti tahu diri, tidak asal dan sembarang merokok di rumah kami.

\nHasil kesepakatan kami kemudian, di dalam rumah, saya hanya boleh merokok di salah satu kamar yang kami fungsikan sebagai ruang kerja dan perpustakaan pribadi kami, sisanya, di dalam rumah, saya tidak boleh membakar dan mengisap rokok. Jadi, jika sedang bosan merokok di perpustakaan rumah, saya keluar rumah saja, ke selasar halaman rumah kontrakan kami.

\nItu terjadi sebelum anak kami lahir. Setelah anak kami lahir sekira lima bulan lalu, saya memutuskan secara sepihak bahwa di dalam rumah, saya sama sekali tidak boleh merokok. Saya hanya boleh merokok mulai dari selasar halaman rumah. Disain dan konstruksi rumah kontrakan kami masih belum memungkinkan untuk bisa menyediakan satu tempat khusus untuk merokok di dalam rumah yang asapnya tidak beredar ke ruang-ruang lain di rumah. Jadi, dengan kesadaran penuh saya mengalah.

\nSaya pikir, siapapun penting melakukan ini, kesadaran sekaligus musyawarah dengan penghuni rumah untuk menentukan ruang-ruang mana saja di dalam rumah yang diperbolehkan merokok dan tidak diperbolehkan merokok. Baik perokok, juga yang tidak merokok, sejak dari rumah sudah mesti berlatih untuk tidak keras kepala dan memaksakan kehendak sesuai keinginannya terkait ruang merokok dan ruang tidak merokok. Maka berbagi ruang dengan musyawarah dan komunikasi dua arah untuk mencapai sebuah kesepakatan bersama, wajib ada di rumah.

\nIni untuk menghindari sikap semau-mau dan sikap mau menang sendiri. Baik itu yang dilakukan oleh perokok, juga yang dilakukan oleh bukan perokok.

\nMentang-mentang seorang perokok, dan berdalih merokok adalah hak yang dijamin undang-undang, Anda tidak bisa merokok semau-maunya di sembarang tempat. Ia betul, merokok memang hak yang dilindungi undang-undang, tetapi Anda tidak bisa sembarangan merokok di sembarang tempat, ada hak orang lain pula yang mesti dipenuhi di sana. Hak ibu hamil, hak anak-anak, dan hak orang yang memang alergi dengan asap rokok.

\nSebaliknya, karena bukan perokok, dan menganggap rokok itu merusak kesehatan, lantas dengan semena-mena melarang perokok merokok di mana pun Ia coba mengisap rokok. Semua tempat hendak Ia jadikan area bebas rokok meskipun itu mustahil karena melanggar hak orang lain.

\nSaya pikir, sikap-sikap bertoleransi seperti ini perlu dibangun mulai dari rumah, dengan cara-cara musyawarah dan diskusinyang elegan untuk mencapai kesepakatan. Sehingga di luar sana, pelajaran-pelajaran berbagi ruang di rumah bisa juga diterapkan, toleransi dan saling memahami. Bukan malah salinh menonjolkan saya yang paling benar, saya yang palinh berhak, dan yang paling-paling lainnya sehingga perokok melanggar hak bukan perokok atau sebaliknya, bukan perokok melanggar hak perokom dengan melarang-larang secara mutlak.<\/p>\n","post_title":"Berbagi Ruang Merokok dan Ruang Bebas Rokok, Bisa Dimulai dari Rumah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"berbagi-ruang-merokok-dan-ruang-bebas-rokok-bisa-dimulai-dari-rumah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-23 10:59:50","post_modified_gmt":"2020-05-23 03:59:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6679","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6675,"post_author":"878","post_date":"2020-05-21 13:44:53","post_date_gmt":"2020-05-21 06:44:53","post_content":"\n

Pertengahan tahun 2014, saya berkunjung ke Kabupaten Asmat, Papua. Sebelum tinggal menetap di Kampung Mumugu Batas Batu, saya sempat berkunjung sekira dua pekan ke beberapa distrik di Kabupaten Asmat. Yang paling lama, di Agats, ibukota kabupaten, dan pusat distrik Sawaerma. Dari aktivitas keliling tersebut, saya menemukan hal yang menarik perhatian saya.

\nKetika itu, bungkus rokok dengan gambar-gambar peringatan menyeramkan baru saja terdistribusi ke wilayah Kabupaten Asmat. Gambar-gambar peringatan menyeramkan itu memiliki istilah keren Pictorial Health Warning (PHW). Karena baru mulai masuk ke wilayah Kabupaten Asmat, rokok-rokok yang dijual di kios-kios di seantero Asmat masih bervariasi. Ada yang sudah ber-PHW, dan ada yang masih belum ber-PHW.

\nMulanya, masyarakat di Asmat masih agak abai dengan PHW pada bungkus rokok. Akan tetapi, lama-lama mereka merasa risih juga dengan gambar-gambar mengerikan yang ada di bungkus rokok yang mulai beredar di pasar rokok Asmat. Lebih lagi dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka yang masih terpatri hingga kini dalam keseharian hidup Suku Asmat terkait roh dan orang meninggal, bungkus rokok ber-PHW kian lama kian mengusik semua itu.

\nKali pertama saya menyadari sangat terganggunya para perokok di Asmat dengan bungkus rokok ber-PHW itu terjadi di Agats. Bungkus rokok ber-PHW itu bahkan menjadi perbincangan berhari-hari di titik-titik kumpul orang-orang di Agats. Puncaknya, hampir di seluruh wilayah Agats, warga enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW.

\nTiap kali ke kios untuk beli rokok, mereka meminta diberikan rokok produksi lama yang belum ber-PHW. Karena kondisi semacam ini, di banyak kios, pemilik kios memanfaatkan situasi, mereka menjual rokok yanh bungkusnya belum ber-PHW dengan harga lebih mahal dibanding rokok dengan bungkus ber-PHW. Termasuk di Kampung Mumugu Batas Batu, kampung tempat saya tinggal hampir 9 bulan lamanya.

\nKarena waktu tinggal saya di Kabupaten Asmat cukup panjang, saya ingin tahu dan serius mengamati sampai kapan gegar bungkus rokok ber-PHW ini terjadi di Asmat. Dan sejauh apa ia akan berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola merokok para perokok di Kabupaten Asmat.

\nKetentuan bungkus rokok ber-PHW diatur dalam Undang-Undang nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Di sana di atur, minimal gambar peringatan pada bungkus rokok mencakup 75 persen bungkus rokok. Sisa 25 persen untuk logo produsen rokok, merek rokok, dan kebutuhan promosi lainnya.

\nBagi saya, kebijakan ini culas, tidak adil, dan semena-mena. Ia culas karena negara lewat undang-undangnya sudah sedari awal hendak menggembosi produk rokok dengan regulasi aneh semacam itu. Akan tetapi di lain pihak, negara terus-menerus menggenjot pendapatannya lewat cukai rokok yang tiap tahun persentasenya konsisten naik.

\nIa tidak adil karena hanya rokok saja yang diperlakukan dengan begitu mengerikan. Peringatan bergambar menyeramkan semacam itu, tidak terjadi pada produk-produk lain yang jelas-jelas sudah terbukti bisa membahayakan kesehatan manusia juga. Misal, apa produk yang menurut hasil riset merupakan pembunuh nomor satu di muka bumi ini? Jawabannya gula. Namun, apa pernah ada peringatan dengan gambar menyeramkan pada produk-produk gula yang beredar di pasaran? Tidak ada. Belum lagi junk food yang menjamur di negeri ini, yang jelas-jelas sangat berbahaya jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan oleh seseorang. Tetapi, mana ada peringatan dengan gambar menyeramkan di bungkus-bungkus dan gerai-gerai yang menjual junk food.

\nIa semena-mena, karena membikin peraturan semau-maunya tanpa melibatkan dan mendengar suara-suara yang merepresentasikan pabrikan dan juga konsumen rokok. Ia juga semena-mena karena ongkos produksi gambar menyeramkan pada bungkus rokok dibebankan kepada pabrikan. Bayangkan, pabrikan menjual produk unggulan mereka kewajiban memproduksi gambar menyeramkan yang menganjurkan agar jangan mengonsumsi produk ini. Hanya produk rokok saja yang diperlakukan semena-mena dan serampangan semacam itu sementara negara konsisten meraup keuntungan banyak dari uang cukai rokok.

\nHari-hari belakangan ini, para anti-rokok mewacanakan agar PHW dalam bungkus rokok ditingkatkan porsi persentase luasan gambarnya di bungkus rokok. Dari yang sebelumnya sekitar 40 persen, menjadi 90 persen. Dengan kata lain, hanya 10 persen dari bungkus rokok yang bebas dari gambar menyeramkan sebagai peringatan atau PHW.

\nSalah satu alasan yang mereka angkat agar PHW pada bungkus rokom diubah menjadi 90 persen, karena wabah covid-19 yang kini melanda bumi lebih rentan menyerang para perokok aktif. Jadi kini mereka anggap waktu yang tepat untuk menaikkan persentase PHW pada bungkus rokok. Sebuah argumen yang ngawur karena penelitian ahli di Perancis dan beberapa negara lain membuktikan hal sebaliknya, perokok memiliki kekebalan yang lebih terhadap covid-19 dibanding non-perokok. Jadi, tuntutan ini mengada-ada dan sekadar mendompleng wabah saja.

\nMari saya ajak kembali ke Kabupaten Asmat. Tak perlu menunggu waktu lama untuk para perokok di Asmat keluar dari rasa takut pada bungkus rokok ber-PHW. Kurang dari sebulan setelah bungkus rokok ber-PHW masuk Asmat, rasa takut dan enggan membeli rokok dengan bungkus ber-PHW itu hilang. Para perokok merokok seperti biasanya, bahkan mereka yang sebelumnya sempat berhenti merokok karena adanya PHW pada bungkus rokok, kembali merokok sebagaimana biasa.

\nDari sini saya melihat, bahwa PHW pada bungkus rokok itu sejenak saja mengganggu para perokok, sisanya, bodoh amat. Tetap merokok dan tetap berkeyakinan selama dikonsumsi sesuai aturan dan tidak berlebihan, rokok tetap memberikan manfaat bagi penikmatnya. Jadi saya kira, PHW tidak akan mengganggu terlalu banyak pada konsumen, akan tetapi, Ia tetap menjadi kebijakan yang culas, tidak adil, dan semena-mena terhadap produsen-produsen rokok. Ia mengada-ada sehingga harus ditolak jika PHW mesti mencakup 90 persen bungkus rokok.<\/p>\n","post_title":"Pictorial Health Warning, Gambar Mengada-Ada yang Tak Ada Gunanya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pictorial-health-warning-gambar-mengada-ada-yang-tak-ada-gunanya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-21 13:44:59","post_modified_gmt":"2020-05-21 06:44:59","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6675","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6663,"post_author":"919","post_date":"2020-05-11 11:37:27","post_date_gmt":"2020-05-11 04:37:27","post_content":"\n

Senyum merekah terpampang dari wajah Striker Jeonbuk Motors, Lee Dong-gook. Sundulannya menyambut umpan dari Son Jun-ho mengoyak gawang Suwon Bluewings pada menit ke-83. Selebrasi sederhana Lee Dong-gook lakukan bersama rekan setimnya di depan tribun utara Jeonju World Cup Stadium yang kosong. Hanya ada banner raksasa di sana, tak ada penonton. Tapi jauh di sana, banyak yang menyaksikan pertandingan ini melalui sosial media. Pertandingan yang memberikan harapan bagi umat manusia.<\/p>\n\n\n\n

Pandemi corona menghantam banyak hal dalam hajat hidup umat manusia. Segala sesuatu menjadi sulit untuk dilakukan di masa seperti ini. Pekerjaan harus dilakukan di rumah dan hanya orang tertentu saja yang bisa beraktivitas kerja seperti biasa. Agenda-agenda besar pun harus mengalami penundaan, termasuk liga sepak bola yang harus terhenti sesaat. Kesehatan manusia menjadi pertimbangan utamanya, karena mengutip kalimat populer dari seorang Bambang Pamungkas: \u201cTidak ada satu kemenangan pun yang sebanding dengan nyawa.\u201d <\/p>\n\n\n\n

Ketika sepak bola diliburkan maka akhir pekan menjadi begitu tidak menyenangkan. Tidak ada riuh komentar pertandingan di layar televisi. Tidak ada sekumpulan remaja yang antusias berangkat ke stadion. Tidak nyanyian-nyanyian yang terdengar seantero kota. Tidak ada juga tayangan video di youtube tentang highlights sebuah pertandingan. Semua terasa hambar, meski beruntungnya masih ada beberapa film bertemakan sepak bola yang rilis bertepatan saat pandemi melanda seperti The English Game dan Ultras.<\/p>\n\n\n\n

Pemberitaan tentang sepak bola pun tiba-tiba menjadi buku tebal ensiklopedia sejarah. Media massa ramai-ramai membuat berita tentang cerita sepak bola di masa lampau. Membuatnya kembali segar dan bisa kembali dinikmati di saat ini. Sesekali, gosip-gosip transfer dihadirkan. Sesekali juga, berita tentang kegamangan petinggi liga juga muncul, apakah liga di sebuah negara akan berlanjut atau tidak.<\/p>\n\n\n\n

Akhirnya, ada yang memilih untuk berhenti seperti Ligue 1 yang akhirnya menobatkan Paris Saint-Germain sebagai juara. Sebelumnya Eredivisie Liga Belanda menjadi kompetisi top di eropa pertama yang menghentikan liga. Ajax Amsterdam harus merelakan peluang mereka untuk tak juara musim ini setelah KNVB selaku federasi sepak bola Belanda mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan liga tanpa pemenang dan degradasi.<\/p>\n\n\n\n

Tapi ada liga yang tak memilih untuk melempar handuk, Bundesliga salah satunya. Petinggi sepak bola Jerman memutuskan untuk melanjutkan kompetisi pada 16 Mei 2020. Kabar baik bagi kita semua yang haus akan tayangan pertandingan sepak bola. Maklum, pemberitaan corona di berbagai media massa cukup memberikan pengaruh psikologi yang buruk bagi sebagian masyarakat. Sepak bola tentunya akan jadi hiburan yang nyata sekaligus memberikan asa kepada manusia. Tapi mirisnya adalah enam hari sebelum bergulirnya kembali Bundesliga, dua pemain asal klub Dynamo Dresden dinyatakan positif terjangkit corona. Bisakah Bundesliga berlanjut? Semoga saja.<\/p>\n\n\n\n

Justru hilal sepak bola itu tak muncul dari Eropa atau dataran Amerika, negeri di Asia lah yang menemukannya. Apresiasi kita berikan kepada Korea Selatan yang berani untuk melanjutkan kompetisi sepak bola mereka. Sebelum pertandingan antara Jeonbuk Motors versus Suwon Bluewings digulirkan, poster digital tentang peraturan ketat disebar di sosial media. Poster tersebut berisikan protokoler yang harus dilakukan sebelum, saat, dan sesudah pertandingan agar kesehatan pemain dan official tim bisa terjaga dengan baik. <\/p>\n\n\n\n

Syukurnya, pertandingan sore itu di Jeonju World Cup Stadium yang dimenangkan oleh Jeonbuk Motors dengan gol tunggal Lee Dong-gook berjalan lancar. Pertandingan itu memang tak disaksikan langsung oleh penonton di tribun stadion. Tapi di twitter, pertandingan itu disaksikan 3,3 juta penonton dari seluruh dunia. 3,3 juta orang itu sedang menyaksikan hilal sepak bola di Jeoncu World Cup Stadium. 3,3 juta orang itu juga sedang memupuk asa mereka akan hari-hari cerah pasca pandemi.<\/p>\n\n\n\n

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Ikut Korea Selatan melanjutkan liga atau Belanda yang mengakhiri liga? <\/p>\n","post_title":"Hilal Itu Nampak di Jeonju World Cup Stadium","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"hilal-itu-nampak-di-jeonju-world-cup-stadium","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-05-11 11:37:28","post_modified_gmt":"2020-05-11 04:37:28","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6663","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6635,"post_author":"883","post_date":"2020-04-18 09:59:35","post_date_gmt":"2020-04-18 02:59:35","post_content":"\n

Industri Hasil Tembakau (IHT) terkenal sebagai industri dalam negeri yang tahan terhadap krisis. Klaim ini telah diuji sejak era kolonialisme hingga krisis ekonomi global pada tahun 2008, IHT masih tetap kokoh berdiri melewati krisis yang terjadi. Namun, tampaknya sektor IHT harus waspada dengan hantaman krisis saat ini yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.<\/p>\n\n\n\n

Banyak pengamat ekonomi yang mengatakan bahwa krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 akan berbeda dengan krisis ekonomi lainnya, baik secara global maupun domestik. Indonesia sudah beberapa kali mengalami krisis ekonomi, juga pernah menghadapi tantangan krisis ekonomi global pada tahun 2008. Dalam melewati periode krisis tersebut, menurut para ekonom Indonesia berhasil bertahan dari krisis dan memulihkan ekonominya karena sektor UMKM menjadi penopang utama ekonomi.<\/p>\n\n\n\n

IHT memiliki peranan penting bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan kontribusinya dalam menghidupi pedagang asongan, warung kelontong, hingga retail. UMKM sendiri memberikan kontribusi terhadap 60% PDB dan penyerapan tenaga kerja sampai 97%.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi berbeda hal dengan krisis yang dihadapi akibat pandemi Covid-19 ini, sektor yang justru terpukul di awal adalah sektor UMKM. Merebaknya Covid-19 di Indonesia mengharuskan pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan sosial antar masyarakat serta kesadaran masyarakat untuk mengurangi mobilitas dan interaksi masyarakat di luar rumah. Alhasil banyak usaha seperti warung makan, tempat hiburan, jasa transportasi, dan lainnya tutup sementara, bahkan sudah banyak yang memilih gulung tikar.<\/p>\n\n\n\n

Terpukulnya sektor UMKM berdampak cukup sistemik kepada perekonomian nasional. Sampai dengan awal pekan ini, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sudah 2,8 juta pekerja yang dirumahkan dan divonis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Mayoritas pekerja yang dirumahkan dan di PHK berasal dari sektor UMKM, sisanya pekerja yang terkena dampak dari efisiensi perusahaan menengah dan besar.<\/p>\n\n\n\n

Gelombang PHK mengakibatkan terpukulnya daya beli masyarakat. Bayangkan sebelum Covid-19 melanda, daya beli masyarakat Indonesia sudah menurun. Apalagi dengan adanya gelombang PHK dan krisis ekonomi ini, daya beli masyarakat dapat dipastikan bakal terpuruk. <\/p>\n\n\n\n

Jika daya beli masyarakat terpuruk, otomatis sektor IHT akan terpukul secara drastis. Sialnya lagi, kenaikan harga rokok akibat kenaikan tarif cukai dan Harga Jual Eceran (HJE) di tengah daya beli masyarakat yang terpuruk, menambah kengerian yang besar terhadap nasib IHT ke depannya.<\/p>\n\n\n\n

Imbas daripada kenaikan cukai saja menimbulkan tiga dampak kerugian yang signifikan. Pertama, penurunan omzet pabrikan sebesar 15%-20%. Kedua, permintaan tembakau dari pabrikan ke petani akan turun hingga 30%, sementara untuk permintaan cengkih penurunannya bisa sampai 40%. Ketiga, Semakin maraknya peredaran rokok ilegal akibat tidak terjangkaunya harga rokok legal di masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Kasus dampak kerugian akibat kenaikan cukai sudah valid terbukti dengan berkurangnya pembelian bahan baku dari pabrikan ke petani. Beberapa perusahaan rokok besar di Indonesia sudah mengkonfirmasi adanya penurunan kuota pembelian bahan baku di tahun ini. Tentu dengan kehadiran krisis akibat Covid-19 akan membuat pabrikan berhitung ulang kembali mengenai produksi mereka, sehingga kemungkinan berkurang lebih besar lagi dalam penyerapan bahan baku akan lebih besar terjadi.<\/p>\n\n\n\n

IHT yang selama ini dapat bertahan dari badai krisis yang pernah terjadi, akan mendapat cobaan dan tantangan yang lebih serius dalam menghadapi krisis akibat Covid-19. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika pada krisis kali ini sektor IHT akan tumbang. Maka dalam menyikapi resiko ini, pemerintah tentunya harus segera bergerak cepat memitigasi dampak yang memukul sektor IHT, salah satunya dengan menghapus kebijakan kenaikan tarif cukai dan HJE, serta mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Badai memang pasti berlalu, tapi tidak semuanya dapat bertahan dari badai yang melanda.<\/p>\n","post_title":"Badai Krisis Ekonomi Covid-19 Memukul Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"badai-krisis-ekonomi-covid-19-memukul-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-18 09:59:41","post_modified_gmt":"2020-04-18 02:59:41","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6635","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":19},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};