\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahun 2020 bisa jadi menjadi tahun terberat bagi dua atau tiga generasi manusia yang masih hidup di muka bumi kini. Salah satu sebabnya, wabah corona yang menjalar hampir di seluruh wilayah bumi dalam waktu yang relatif singkat saja.

\nMulanya di Cina, virus corona atau yang lebih sering disebut Covid-19 lantas dengan begitu cepatnya menyebar ke penjuru bumi. Ketika virus ini mulai membikin masalah di kota Wuhan, Cina pada penghujung 2019, banyak orang masih menganggap remeh karena mengira virus ini setara virus flu biasa saja. Keadaan kemudian berubah drastis karena penularan covid-19 yang begitu cepat hingga akhirnya pada Januari 2020, Wuhan, dan hampir seluruh wilayah Cina dikarantina dengan ketat untuk menghambat penyebaran virus ini.

\nSayangnya, penyebaran virus sudah terlanjur terjadi. Covid-19 memang sejenis virus yang bandel karena mudah sekali berpindah inang lewat beberapa media antara. Covid-19 kemudian membikin daratan Eropa gempar. Italia, Spanyol, dan Perancis menjadi tiga negara yang mengalami dampak paling signifikan akibat penularan virus covid-19. Italia bahkan tercatat sebagai negara dengan korban meninggal dunia terbanyak di dunia akibat virus covid-19 ini.

\nIndonesia pun tak lepas dari terjangan wabah corona ini. Meskipun pada awalnya negara lewat pejabat-pejabatnya meyakinkan warga bahwa Indonesia aman dari virus corona, bahkan mereka menyisipkan guyonan dan kelakar tidak pada tempatnya hingga terkesan meremehkan agar masyarakat tenang dan tidak panik, pada akhirnya, pada awal Maret ditemukan kasus pertama positif covid-19 di Indonesia.

\nHingga hari ini, kenaikan positif Covid-19 masih terjadi di Indonesia. Per 31 Maret 2020, jumlah positif Covid-19 di Indonesia mencapai 1528 orang, naik 114 kasus dari hari sebelumnya. Dari total positif sebanyak itu, 136 orang meninggal dunia dan 81 orang dinyatakan sembuh. Ke depan, Indonesia masih akan menjalani hari-hari berat nan panjang hingga akhirnya wabah corona ini berakhir di Indonesia dan di seluruh penjuru bumi.

\nSembari menanti wabah corona ini berakhir, lantas apa yang mesti dan bisa dilakukan oleh kretekus di Indonesia?

\nYang pertama dan paling utama, tentu saja mematuhi dengan sukarela peraturan-peraturan yang sudah dibikin pemerintah, baik pusat juga daerah dalam rangka menanggulangi penyebaran virus covid-19 ini. Tanpa kesadaran dan kerelaan mematuhi peraturan yang telah diberlakukan pemerintah, bisa jadi kita malah akan menjadi beban bagi negara, juga menjadi vektor perantara penyebaran virus covid-19 itu.

\nSelanjutnya kretekus sebaiknya berada di rumah saja agar kampanye social distancing dan pysical distancing yang digalakkan pemerintah guna menghambat laju penebaran virus bisa efektif. Sembari tetap di rumah saja, kretekus mesti memperhatikan gaya hidup sehat dengan menjaga pola makan, mengonsumsi vitamin, dan rajin-rajin mandi dan cuci tangan.

\nJika kretekus adalah pekerja yang mesti tetap bekerja di luar rumah guna mencari rezeki sebagai pemenuhan kebutuhan harian keluarga, ikutilah prosedur pengamanan diri ketika anda keluar rumah. Pakai masker, jaga jarak aman, hindari kerumunan, dan beberapa protokol keluar rumah lain yang telah dikeluarkan oleh pihak berwenang di bidang kesehatan.

\nKemudian, jika Anda punya keahlian di bidang kesehatan, atau punya jiwa kerelawanan yang tinggi, kretekus bisa mendaftarkan diri menjadi sukarelawan medis dan non-medis dalam membantu upaya pemerintah menghadapi wabah yang menyebalkan ini. Pilihan ini sangat terbuka sembari tetap memperhatikan protokol kesehatan masing-masing. Karena, dalam kondisi seperti ini, kekurangan tenaga sangat mungkin dialami mereka yang berjuang di garis depan dalam memerangi wabah corona, peran relawan menjadi cukup penting untuk menutup kekurangan tenaga di lapangan.

\nYang terakhir, tetaplah merokok wahai kretekus. Merokok sembari tetap mematuhi peraturan-peraturan yang berlaku dalam dunia perkretekan. Jadilah perokok yang santun, dan tetap selalu menjadi perokok santun. Karena di tengah wabah semacam ini, rokok kretek bisa membantu anda dalam relaksasi, menjadi teman penghilang stres karena mesti terkurung lama di dalam rumah.

\nLebih dari itu, dengan tetap merokok, kita menyumbang kepada negara lewat cukai pada tiap batang rokok yang kita isap. Dari sana, kita juga ikut andil memerangi wabah corona karena banyak pemerintah daerah kini yang menggunakan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH-CHT) sebagai dana tambahan untuk memerangi wabah virus corona di daerahnya masing-masing.<\/p>\n","post_title":"Apa yang Bisa Kretekus Lakukan di Masa Wabah Corona Ini?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-bisa-kretekus-lakukan-di-masa-wabah-corona-ini","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-04-01 12:02:55","post_modified_gmt":"2020-04-01 05:02:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6603","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6600,"post_author":"883","post_date":"2020-03-31 11:13:27","post_date_gmt":"2020-03-31 04:13:27","post_content":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Virginia Flue Cured Bahan Baku Rokok Mild","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"anda-penghisap-kretek-mild-mari-mengenal-tembakau-virginia-flue-cured","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-07-10 09:38:53","post_modified_gmt":"2022-07-10 02:38:53","post_content_filtered":"\r\n

Tembakau Virginia Flue Cured adalah tembakau yang digunakan sebagai bahan baku rokok mild.<\/em><\/p>\r\n

Banyak kretekus yang tidak tahu bahwa komponen tembakau dalam sebatang kretek<\/a> yang mereka konsumsi memiliki jenis atau varietas yang beraneka ragam. Keanekaragaman varietas inilah yang menjadikan kretek memiliki karakteristik masing-masing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kretek mesin berjenis mild<\/a> misalnya, memakai komponen tembakau berjenis Virginia Flue Cured. Kretek mild sebagai salah satu jenis kretek yang paling populer dikonsumsi penting untuk diberikan informasi mengenai bahan baku tembakau tersebut. Tulisan ini akan memberikan sejarah singkat Virginia Flue Cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tembakau Virginia adalah jenis tembakau yang namanya diambil dari tempat ia mula-mula ditanam, Virginia, Amerika Serikat. Di dunia internasional tembakau ini dikenal dengan sebutan Brightleaf Tobacco karena warna daunnya yang lebih terang dibanding tembakau lainnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sejarah tembakau ini bermula pada masa Perang Saudara pada tahun 1812. Saat itu timbul kebutuhanakan rokok yang lebih lembut, ringan nikotin, namun tetap menguarkan aroma wangi tembakau. Beberapa petani di Ohio, Pennsylvania, dan Maryland mencoba berinovasi. Beberapa petani lainnya juga berinovasi dengan mengubah sistem curing. Tapi percobaan ini baru berhasil sekitar tahun 1839.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Abisha Slade<\/a>, seorang tentara berpangkat kapten sekaligus petani tembakau sukses di Carolina Utara, adalah orang yang dianggap mengawali tradisi produksi tembakau Virginia FC. Saat itu para petani di kawasan tersebut menemukan formula bahwa daerah yang sedikit berpasir di dataran tinggi akan menghasilkan daun tembakau lebih tipis. Karakteristik daun seperti ini akan menghasilkan tembakau dengan kadar nikotin lebih rendah.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebetulnya bukan Kapten Slade seorang diri yang berjasa. Ia berutang banyak pada budaknya, Stephen, yang tanpa sengaja menghasilkan daun tembakau berwarna cerah dan berkarakter daun tipis dengan kadar gula tinggi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Suatu hari, saat sedang bertugas memproses daun tembakau, Stephen ketiduran karena terlampau lelah. Ketika bangun ia kaget karena api hampir saja padam. Tergesa-gesa ia mengambil arang dari tempat penyimpanan agar api tak padam. Dan, voila, muncullah daun berwarna terang.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kapten Slade bersaksi itulah tembakau paling cerah yang pernah dilihatnya. Sejak saat itu Kapten Slade mengembangkan sistem baru untuk menghasilkan tembakau Virginia<\/a> yang berwarna cerah dan berdaun tipis: menanam pada tanah yang tidak begitu subur (tanah kritis namun masih mengandung air) dan menggunakan arang untuk proses curing.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, banyak perubahan yang terjadi. Di Selatan yang tandus tanah yang tadinya tak ada harganya mendadak menjadi mahal dan mendatangkan keuntungan berlimpah. Para petani tembakau beramai-ramai menggunakan sistem flue cured.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tumbuh kesadaran di kalangan petani bahwa tembakau Virginia memerlukan tanah yang kurang subur. Dengan demikian tanah yang tadinya tidak produktif, tidak bisa ditanami apa pun, kini bisa ditanami tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah Perang Saudara usai, kota Danville yang terletak di negara bagian Virginia mulai mengembangkan industri tembakau jenis ini. Daerah penanamannya luas, mencakupi Caswell County, Pittsylvania County, bahkan hingga Carolina Utara. Saat ini tembakau Virginia FC ditanam di mana-mana, mulai dari Brazil, Cina, Zimbabwe hingga Indonesia. Tembakau jenis ini merupakan bahan baku utama kretek mild dan rokok putih.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6600","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6595,"post_author":"919","post_date":"2020-03-29 10:59:30","post_date_gmt":"2020-03-29 03:59:30","post_content":"\n

Otoritas sepak bola di hampir seluruh negara pada akhirnya mengeluarkan kebijakan untuk tidak melanjutkan kompetisi. Sungguh sangat tidak menyenangkan ketika kondisi social distancing seperti ini tidak ada hiburan pertandingan dari lapangan hijau. Betapa mendongkolnya saya dan banyak manusia di luar sana yang kehilangan sepak bola akibat corona atau covid-19. Tapi ternyata sepak bola tidak benar-benar mati, beruntungnya netflix merilis film tentang sepak bola yang ternyata mampu mengobati kerinduan kita tentang aksi 24 orang mengolah si kulit bundar.<\/p>\n\n\n\n

Sebenarnya ada dua film bertemakan sepak bola di netflix. Tapi untuk kali ini saya merekomendasikan untuk menonton terlebih dahulu film berjudul The English Game. Serial yang disutradarai oleh Julian Fellowes ini rilis 20 Maret 2020 dan langsung hadir dalam lima episode dan satu episode berdurasi sekitar 44 menit. Serial ini sangat cocok untuk menemani dan meredakan penat saat social distancing.<\/p>\n\n\n\n

Banyak hal yang dikisahkan dalam The English Game. Pertama, kisah tentang bagaimana sepak bola dimainkan dan dikompetisikan sebelum era modern seperti saat ini. The English game berlatar belakang pada tahun 1878 dan menceritakan kompetisi Piala FA berjalan pada saat itu. Sebagai informasi, Piala FA sudah mulai dikompetisikan sejak musim 1871-72, dengan demikian serial ini menggambarkan kisah tentang kompetisi tujuh musim setelah pertama dihelat. Kala itu belum ada nama klub tenar Inggris seperti Liverpool, Manchester United, Arsenal, Chelsea dan yang lainnya. Kompetisi saat itu diikuti klub seperti Old Etonians, Royal Engines, Oxford University, dan jika ada satu nama yang kita kenal saat ini adalah Blackburn. <\/p>\n\n\n\n

Kompetisi di jaman itu ternyata tidak seheterogen seperti saat ini, karena saat itu hanya klub yang berisi orang-orang bangsawan saja yang bisa main sepak bola dan tampil di Piala FA. Serial The English Game menggambarkan perjuangan kelas pekerja dan masyarakat pinggiran saat itu untuk meraih Piala FA dan memberikan wajah baru sepak bola yang kemudian kita kenal seperti saat ini. Kelas pekerja pula yang kemudian menelurkan sebuah istilah bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan belaka namun jauh lebih luas dari itu. <\/p>\n\n\n\n

Adalah Fergus Suter yang menjadi tokoh protagonis di serial tersebut. Dirinya yang merupakan pemuda asal Skotlandia lalu bersama teman sekampung halamannya, Jimmy Love dibeli oleh klub Darwen FC yang dimiliki oleh sebuah pabrik tekstil di daerah Lancashire, Inggris. Kehadiran Fergus Suter dan Jimmy Love rupanya mampu mendongkrak prestasi Darwen FC saat itu dan membuat petinggi FA selaku asosiasi sepak bola Inggris murka. Maklum saja, para petinggi FA saat itu adalah anggota bangsawan dan juga bermain untuk sebuah klub bernama Old Etonians. Nah di sinilah kemudian konflik antara kelas pekerja versus bangsawan itu dimulai dan mewarnai seluruh rangkaian serial tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Dari sudut pandang lain kita tidak hanya bisa melihatnya dari sudut sepak bola. Serial The English Game ini juga menggambarkan betapa serakahnya industri di Inggris pada saat itu. Kelas pekerja diperas sedemikian rupa agar pabrik tetap berjalan dan meraih keuntungan dengan maksimal. Bayangkan saja melalui rapat tertutup antar pemilik pabrik dan bank mereka mengambil keputusan untuk memangkas gaji para pegawai sebesar 10 persen, pemandangan yang mengerikan bukan?<\/p>\n\n\n\n

Setiap serial tentang apa pun pasti kisah cinta yang turut mewarnainya. Kisah cinta dalam serial The English Game sebenarnya memiliki kualitas yang biasa saja, tidak baik dan tidak buruk. Ibarat pelengkap, kisah cinta di serial tersebut hanya sebagai toping agar bisa terlihat lebih manis dan menjadi jembatan antarkisah dan scene yang terjadi di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Serial The English Game mudah-mudahan tak hanya berhenti di satu season saja, semoga saja netflix juga membuat season-season berikutnya. Akan tetapi seperti kebiasaan netflix, untuk melanjutkan kisah sebuah serial biasanya mereka akan mengacu pada dua hal, kesuksesan serial tersebut dan juga persetujuan dari sang sutradara. Jika semakin banyak yang menyaksikan The English Game maka tentu peluangnya terbuka lebar. Dengan demikian, mari kita menyaksikan serial tersebut saat social distancing ini karena sepak bola nyatanya tak mati karena corona, masih ada The English Game yang menyelamatkannya. <\/p>\n","post_title":"Sepak Bola Tidak Mati Karena Corona, The English Game yang Menyelamatkannya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-bola-tidak-mati-karena-corona-the-english-game-yang-menyelamatkannya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-29 10:59:36","post_modified_gmt":"2020-03-29 03:59:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6595","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6588,"post_author":"919","post_date":"2020-03-22 11:25:58","post_date_gmt":"2020-03-22 04:25:58","post_content":"\n

Seandainya bisa melontarkan umpatan maka saya akan nekat turun ke jalan untuk berteriak mengutuk keadaan. Kondisi selama beberapa hari mengurung diri di rumah memang sangat tidak menyenangkan. Ya harus gimana lagi, cara ini harus saya tempuh agar tidak tertular virus COVID-19 alias corona yang sangat cepat menyebar. Alhasil, saya hanya bekerja di rumah dan menghibur diri dengan menyaksikan video di youtube. Lalu juga mendengarkan musik, khususnya saya sangat suka mendengarkan The Panturas belakangan ini.

\nKondisi yang tidak mengenakkan ini membuat saya harus tetap punya motivasi tinggi saat berada di rumah. Itu alasan utama saya mendengarkan The Panturas. Skemanya cukup sederhana, bangun tidur saya langsung mandi air hangat. Setelah itu masuk ke kamar khusus bekerja, menyalakan AC dan komputer lalu masuk ke spotify dan memutar lagu The Panturas. Dua sampai tiga lagu saya dengarkan sambil menikmati rokok dan minuman hangat, sangat menyenangkan. Aktivitas ini saya lakukan berulang kali dan lumayan memberi pengaruh untuk menyemangati saya.

\nBosan mendengar The Panturas melalui spotify, saya pindah menyaksikan performanya di youtube. Aktifitas ini saya lakukan di sela-sela pekerjaan, seringnya saat otak sudah mumet dengan desain dan tulisan. Biasanya, saat kita menyaksikan satu video maka youtube akan langsung merekomendasikan video lainnya dan kali ini yang direkomendasikan pada saya adalah video klip terbaru The Panturas dari lagu yang berjudul \u2018Queen of The South\u2019 sebuah lagu yang bagi saya menonjolkan karakter musik dari band asal Bandung tersebut, pantai, rock, dan iramanya mengajak kamu untuk bergoyang.

\nSaya tidak begitu paham tentang sinematografi dan tetek bengek lainnya dalam teknis atau aliran video, akan tetapi saya merasa sedang menyaksikan film horror dan pembunuhan jadi satu dalam video klip terbaru The Panturas tersebut. Sutradara cukup aman dalam mengambil gambar sehingga membuat penonton nyaman dalam menyaksikan babak demi babak didalamnya. Mata juga dimanjakan oleh permainan warna dan lampu yang cukup apik. Adegan tiap adegan pun dibikin selaras dengan musik dan yang paling istimewa adalah adegan merokok yang bagi saya juara di video klip tersebut.

\nBaru dimulai saja kita sudah disuguhkan oleh adegan membakar rokok dari salah satu karakter utama di video tersebut. Ini sangat mirip sekali dengan video klip lagu nada kasih yang dinyanyikan oleh Fariz RM beserta Neno Warisman. Sungguh, saya merasa sudah lama sekali tidak melihat adegan merokok tampak tampil baik dalam sebuah video klip. Kerinduan saya itu terbayar tuntas saat menyaksikan video klip terbaru The Panturas.

\nMeskipun bukan seorang video addict atau movie addict tapi saya cukup intens mengamati adegan merokok dalam sebuah video. Entah kenapa di banyak film atau video klip adegan merokok dibuat dengan sangat sinematik dan indah. Pernah salah seorang teman mengatakan bahwa adegan yang sangat manusiawi seperti makan, mandi, minum, hingga bercinta memiliki frame yang kuat dalam sebuah film atau dengan kata lain dibuat seindah mungkin. Jika asumsi tersebut benar maka teorinya adalah merokok sejatinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan itu sangat manusiawi sifatnya.

\nSatu hal yang saya sukai juga dari video klip ini adalah karakter tokoh perempuan yang saya rasa memerankan diri sebagai ratu dari selatan. Jujur secara aura penghayatan dirinya untuk memerankan ratu selatan masih jauh dari sempurna. Akan tetapi nilai lebih yang saya lihat adalah adegan merokok yang ia mainkan hampir sempurna. Saya tak melihat dirinya sedang berakting untuk merokok, atau dengan kata lain dirinya sendiri memang adalah seorang perokok. Setidaknya adegan si ratu selatan yang merokok di video klip ini jadi standing poin untuk memperjuangkan hak perempuan untuk merokok dan lepas dari segala stigma buruk.

\nVideo klip ini rupanya hasil kerjasama The Panturas dengan Authentic City yang merupakan produk dari merek rokok terkenal, Clas Mild yang dibuat oleh salah satu pabrikan legendaris asal Kudus, PT Nojorono Tobacco International. Seperti yang kita ketahui industri rokok juga banyak memberikan sumbangsih bagi dunia musik di Indonesia. Cukup banyak contohnya, salah satunya yang saya paling ingat betul hadirnya LA Light Indiefest yang banyak menelurkan band indie keren pada saat itu. Belum lagi gelaran konser-konser musik keren yang juga disponsori oleh industri hasil tembakau. Tak terbayangkan oleh saya kemudian jika sokongan itu harus hilang akibat kebijakan yang sewenang-wenang, industri mana yang mau ikut cawe-cawe di dunia musik, saya rasa sangat jarang.

\nTerlepas dari itu, saya sangat menikmati The Panturas di kondisi seperti ini, ketika semuanya saya harus berada di rumah dan mengurangi aktivitas di luar. Saya butuh musik yang \u2018nendang\u2019 untuk menjadi pelumas roda aktivitas saya yang menjenuhkan sekarang ini dan bahkan mungkin untuk beberapa bulan kedepan. Selain itu, empat menit untuk menyaksikan video klip terbaru The Panturas tak terbuang sia-sia, memang rasanya jadi video klip yang tepat untuk dinikmati sambil menghisap sebatang rokok. <\/p>\n","post_title":"Empat Menit yang Menyenangkan Bersama The Panturas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-menit-yang-menyenangkan-bersama-the-panturas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-22 11:26:01","post_modified_gmt":"2020-03-22 04:26:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6588","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6585,"post_author":"878","post_date":"2020-03-21 10:22:31","post_date_gmt":"2020-03-21 03:22:31","post_content":"\n

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan Komang Wawan, petani cengkeh di Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Bali, via sambungan telpon. Saya mengenal Komang ketika melakukan riset cengkeh di desanya tiga tahun lalu. Perbincangan kami, tentang ancaman FCTC yang mengintai petani.

\nKomang Wawan kini berusia 27 tahun. Sejak lulus SMA, ia memutuskan fokus menjadi petani. Cengkeh dan kopi jadi komoditas utama yang ia tanam di lahan miliknya, warisan dari orang tua. Komang menjadi anomali di saat banyak anak muda enggan jadi petani.

\nSelain Komang Wawan, ada banyak petani muda di Banjar Tibudalem. Tiga tahun lalu, dari 15 orang petani yang menjadi narasumber dalam riset cengkeh yang saya lakukan, hanya tiga orang yang usianya lebih tua dari saya, itupun masih kepala tiga. Mereka semua menanam cengkeh dan kopi.

\nDari para petani muda di Banjar Tibudalem ini, saya membongkar stigma yang ada di kepala bahwa profesi petani itu adalah profesi yang tidak menjanjikan, dekat dengam kemiskinan, dan stigma bahwa para petani kurang berpendidikan. Mereka petani yang sejahtera, dan terdidik tentu saja.

\nDalam perbincangan via telpon dengan Komang Wawan, ia bertanya seberapa besar ancaman FCTC bagi nasib pertanian cengkeh di desanya, dan di negeri ini. Ia juga mengabarkan hasil panen cengkeh tahun lalu dan prediksi hasil cengkeh tahun ini.

\nSaya menjelaskan pasal 9&10 FCTC, isinya menutup rapat peluang cengkeh jadi bahan baku dalam sebatang rokok yang diproduksi.

\n\"Kalau FCTC berlaku di Indonesia, cengkeh nggak akan dibeli pabrik rokok lagi. Lebih 90 persen hasil cengkeh nasional terbengkalai.\" Ujar saya menjelaskan.

\nKomang Wawan terdiam lama usai mendengar jawaban saya perihal ancaman FCTC bagi pertanian cengkeh nasional. Ia lantas berujar, \"Kenapa ada benda sejahat itu! Semoga benda jahat itu (FCTC) nggak masuk di Indonesia.\"

\nSaya kemudian balik bertanya, \"Jika FCTC jadi diratifikasi pemerintah Indonesia, apa yang akan terjadi di Banjar Tibudalem?\"

\nKomang menjelaskan panjang lebar menjawab pertanyaan itu. Aspek ekonomi, sosial, dan pertanian ia jelaskan.

\nAda 70 KK di Banjar Tibudalem. Seluruhnya, petani dan buruh tani, terutama untuk komoditas cengkeh. Jika cengkeh diberangus lewat skema FCTC, 70 KK itu akan goyah perekonomiannya. Di luar 70 KK itu, ada ratusan orang dari luar banjar, terutama dari Karangasem yang menggantungkan diri dari pertanian cengkeh sebagai buruh panen ketika musim panen tiba. Ancaman FCTC begitu nyata bagi keuangan keluarga mereka.

\nPara pendatang dari Karangasem di musim panen, datang dari wilayah yang tandus. Sehari-hari mereka kerja serabutan, sebagai buruh tani, pekerja proyek pembangunan, atau masuk ke sektor pariwisata sebagai tenaga kasar di sana.

\nKetika musim panen cengkeh tiba, mereka datang berbondong-bondong ke wilayah Kabupaten Buleleng dan Tabanan, termasuk ke banjar tempat Komang Wawan tinggal. Mereka bekerja sebagai tenaga pemetik cengkeh dengan upah menggunakan sistem bagi hasil, separuh untuk pekerja pemetik, separuh untuk pemilik kebun. Dari hasil itu, mereka bisa menabung untuk bekal hidup keluarga hingga musim panen cengkeh selanjutnya tiba.

\nDi wilayah perkebunan cengkeh di Bali Utara, saat musim panen, ribuan buruh panen cengkeh memang berdatangan dari banyak tempat, Karangasem paling banyak, lainnya datang dari Jawa Timur semisal Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Sidoarjo dan Banyuwangi.

\nJika FCTC berlaku di negeri ini, nasib ribuan buruh panen cengkeh yang menggantungkan setahun hidupnya dari upah bagi hasil panen cengkeh akan hancur berantakan. Di sini, ancaman FCTC begitu nyata terlihat.

\nDari sektor sosial, jika FCTC diberlakukan, para petani di Banjar Tibudalem akan mengalami goncangan. Semangat mereka dalam bertani musnah karena komoditas yang tak berharga lagi. Semangat bertani hilang, konstruksi sosial berantakan.

\nMenurut Komang Wawan, perkebunan cengkeh akan dipenuhi api dan asap. Pembakaran akan terjadi sebagai simbolisasi kematian cengkeh di negeri ini. Pohon-pohon cengkeh akan dibakar karena secara ekonomi sudah mati, tak berharga lagi.

\nSudah barang tentu kondisi sosial masyarakat dan tatanan sosial yang sudah terbangun dalam lingkungan pertanian cengkeh akan rusak berantakan karena ancaman FCTC ini. Jadi, bukan hanya perekonomian petani yang rusak, tatanan sosial juga akan rusak.

\nSelain itu, dengan keberadaan FCTC dan berantakannya pertanian cengkeh di Banjar Tibudalem, antusias kaum muda desa untuk bertani akan hilang karena komoditas utama yang mereka tanam tak lagi laku di pasaran. Angka pengangguran akan meningkat drastis.

\nIni satu contoh kasus dari Banjar Tibudalem, Desa Pujungan, Tabanan, Bali. Di tempat lain, ancaman FCTC mirip, menghancurkan perekonomian petani cengkeh, merusak tatanan sosial yang sudah dikonstruksi lewat pertanian cengkeh, dan menghancurkan pertanian cengkeh andalan desa.

\nJadi, tak ada kata lain yang mesti terus didengungkan oleh kita semua yang peduli akan negeri ini, kemandirian petani dan kedaulatan petani, selain berusaha untuk ikut menolak ratifikasi FCTC oleh pemerintah. Karena ini adalah ancaman yang nyata bagi kedaulatan bangsa.<\/p>\n","post_title":"Menilik Ancaman Nyata Jika FCTC Diratifikasi Pemerintah Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menilik-ancaman-nyata-jika-fctc-diratifikasi-pemerintah-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-21 10:22:39","post_modified_gmt":"2020-03-21 03:22:39","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6585","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6560,"post_author":"931","post_date":"2020-03-05 09:32:16","post_date_gmt":"2020-03-05 02:32:16","post_content":"\n

Agak lama saya penasaran. Dalam setiap blusukan di kawasan Borobudur, lalu melewati sebagian wilayah desa ini, saya kerap melihat tembakau yang seolah sedang dijemur. Puncaknya terjadi ketika desa ini menjadi tempat penyelenggaraan BalkonJazz akhir tahun lalu. Karena harus menembus padatnya penonton, saya memblusuk gang antar rumah, dan kagetlah saya karena hampir setiap rumah disesaki dengan tembakau yang akan dijemur dan dirajang.<\/p>\n\n\n\n

Jadi desa ini bisa dikatakan penghasil tembakau? Benar, kata mas Andi Ahmad, tapi dengan penjelasan yang amat panjang. Andi Ahmad adalah anak muda desa yang mencurahkan perhatian pada dunia tembakau dan seluk beluknya. Siang itu, dengan dua teman, kami berbincang dengannya dan rekannya Sakti, yang juga punya perhatian yang tak kalah besarnya pada tembakau. Angin berhembus silir, dan obrolan kami meluncur deras ditemani kopi dan tembakau yang siap untuk dilinting.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo, nama desa ini, bisa dikatakan \"Tanah Negeri Tembakau\", demikian Andi meneruskan pembicaraan. Ini karena kebanyakan penduduk desa ini merupakan petani dan perajang tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertanam tembakau di lahan sendiri, para petani sini menyebar ke penjuru Magelang ini untuk mengambil jasa menanam tembakau dan sekaligus memanennya. Namun tembakau yang dihasilkan desa ini tidak banyak karena lahan yang terbatas. Yang banyak adalah \"tembakau impor.\" Ini istilah yang mereka gunakan untuk menggambarkan tembakau yang didatangkan dari daerah-daerah di Jawa Timur untuk dirajang di daerah sini. Kalau sedang ramai-ramainya, bisa ada 100an truk dari Jawa Timur yang membawa daun tembakau ke sini untuk dirajang. Karena itulah, dulu konon para grader sempat bingung karena desa ini menghasilkan banyak tembakau tidak berkorelasi dengan luasan lahannya. Baru mereka tahu kalau ini tembakau ini berasal dari luar daerah. Pantesan, demikian kira-kira, komentar para gradir ini.<\/p>\n\n\n\n

Pantesan, dalam hati saya juga. Tapi sebentar, pertanyaannya: kenapa daun tembakau itu harus dirajang di sini? Karena mereka di sana hanya menanam, dan tidak telaten untuk merajang hingga menghasilkan tembakau yang bagus. Merajang memerlukan keahlian, pengalaman, juga kecermatan, kesabaran, dan ketelatenan. O, lagi-lagi saya terbuka dari kekepoan yang memalukan.<\/p>\n\n\n\n

Tapi bukan semata soal itu juga, dua anak muda yang pengetahuan tembakaunya telah menubuh ini kemudian melanjutkan, faktor alam juga menentukan. Buktinya ketika orang-orang sini pergi ke sana untuk merajang, hasilnya yang dirajang di sini kualitasnya ternyata lebih baik. Karena itulah, perajangan akan tetap dilakukan di sini. Mungkin karena factor sinar matahari dan udara. Orang-orang sini pergi ke daerah-daerah itu --Bojonegoro, Tuban, Senori, dll-- lalu membawa daun tembakau yang masih hijau, dan melalui berbagai proses hingga perajangan sampai menghasilkan tembakau yang joss. Lalu, melalui seleksi hidung grader, tembakau-tembakau itu kemudian masuk ke pabrik-pabrik rokok.<\/p>\n\n\n\n

**
Tuksongo secara harfiah berarti \"mata air sembilan.\" Sebuah arti yang menunjukkan daerah yang subur, kemakmuran dan kesejahteraan, gemah ripah loh jinawi. Memang, jelas mereka, kata orang-orang tua dulu di sini ada sembilan pohon besar dengan mata air di bawahnya. Sekarang hanya ada satu pohon besar di barat sana.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo adalah salah satu desa di kecamatan Borobudur. Jarak dengan Candi Borobudur hanya sekitar 1 - 1 1\/2 km. Dari tempat kami duduk, di bagian selatan tampak stupa Borobudur nan elok di antara hijau pepohonan dan sinar surya yang biru benderang. Selain tembakau, andalan mereka juga adalah mi lethek yang terbuat dari tepung aren yang sangat khas.<\/p>\n\n\n\n

Tuksongo termasuk desa yang makmur. Berbeda dengan banyak desa, yang berduyun ditinggalkan anak mudanya untuk mencari pekerjaan di kota, anak muda Tuksongo relatif betah di desa mereka. Salah satu faktornya ya tembakau. Kalau pun mereka pergi, ya untuk membeli daun tembakau atau bertanam tembakau. Kalau musim tembakau ya sibuk semua di sini. Kalau musim hujan seperti sekarang sebagian mereka akan mencari penghidupan di kawasan Candi. Begitulah siklusnya.<\/p>\n\n\n\n

Kami kalau bikin acara, lanjut Andi, selalu sukses. Kenapa? Karena anak mudanya masih banyak dan bersatu membantu. Kami tidak krisis anak muda. Kenapa, ya karena tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Klaim Andi tidak berlebihan. Tuksongo memang desa yang relatif maju. Balkondesnya hidup dan telah memberikan laba. Tak aneh juga jika gelaran BalkonJazz tahun lalu, yang rencananya akan dijadikan event tahunan, diadakan pertama kali di desa ini. Selain tempatnya yang luas dan mudah dijangkau, dukungan Telkom, tentu juga karena kesiapan dan kesatuan anak mudanya.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang kedua anak muda ini tengah sibuk mengembangkan \u2018tingwe\u2019 akronim dari \u2018melinting dewe\u2019. Selain sebagai siasat menanjaknya terus harga rokok, mereka ingin mengangkat tembakau yang benar-benar ditanam di desa Tuksongo ini. Selama ini, menurut mereka, harganya disamakan begitu saja dengan \u2018tembakau impor\u2019 itu. Padahal kedua tembakau itu beda kualitasnya. Tembakau sini aromanya lebih harum. Kami kemudian ditunjukkan dan bahkan diberikan kesempatan untuk melinting tembakau lokal yang dimaksud, yang beraroma buah salak.<\/p>\n\n\n\n

Sekarang pembiasaan dulu, kata Sakti, setelah itu kami akan buka \u2018Kafe Tingwe\u2019, lanjut Andi. Ia kemudian menunjukkan beberapa alat melinting, kotak menyimpan tembakau dan rokok yang telah dilinting. Tapi kami perlu belajar dulu merajang yang lebih halus, yang enak untuk dilinting dan juga belajar menstandarisasi rasa tembakau, karena seringkali rasanya beda satu sama lain. Ia kemudian menunjukkan tembakau yang dia beli, yang ternyata setelah beberapa kali dibeli, berbeda rasanya satu sama lain.<\/p>\n\n\n\n

***
Sore semakin dekat. Makanan yang disuguhkan sudah habis dan kopi pun hanya tersisa ampasnya. Di bagian selatan langit kelihatan mendung, mungkin akan segera turun hujan. Tak terasa betul obrolan ini sudah menyita waktu hampir tiga jam, saya telah menyerap banyak pengetahuan dan telah menggenapi rasa penasaran selama ini. Kami harus segera mengakhiri, lagi pula dua teman yang menyertai harus segera sampai ke Yogya untuk sebuah pertemuan. Memang repot jalan dengan orang-orang sibuk.<\/p>\n\n\n\n

Saya senang sekali mendengar cerita-cerita mereka yang dibarengi dengan passion dan optimisme yang kuat. Tidak mudah bagi anak-anak muda untuk bertahan di desa, bahkan berpikir untuk mengembangkan desanya. Tampak di sana harapan yang sangat kokoh.<\/p>\n\n\n\n

Tetapi, ini mungkin kekeliruan saya, menjelang pembicaraan berakhir, saya menyinggung soal FCTC, seekor monster global yang berkampanye bahaya rokok, yang kini gencar berpropaganda untuk mengurangi penanaman, bahkan mendorong petani untuk murtad dari menanam tembakau. Indonesia memang belum meratifikasi dan menjadi anggota FCTC ini, tetapi desakan itu cukup kuat.<\/p>\n\n\n\n

Seketika pembicaraan yang tadi ceria jadi luruh. Kedua wajah anak muda ini jadi tampak serius. Memang secara politik tidak mudah menggeluti tembakau. Sebagai contoh \u2018kafe tingwe\u2019 yang mereka kembangkan dengan sangat pahit tidak dianggap sebagai bagian dari industri kreatif yang kini ngotot digenjot, tak terkecuali di kawasan Borobudur, yang dikategorikan sebagai superpriority pengembangan wisata.<\/p>\n\n\n\n

Tapi kedua anak muda ini adalah petarung. Mereka bilang akan menjalankan sendiri meski tak didukung dan diberi bantuan. Mereka juga akan melawan rezim ekonomi antitembakau. Mereka tidak tahu apa itu FCTC, pokoknya mereka akan melawan setiap ada yang mencoba menghancurkan tembakau. Tahun lalu, kata Andi, kami berangkat dengan empat bis ke Jakarta untuk ikut protes soal ini.<\/p>\n\n\n\n

Waktu semakin mepet, kami pun berpamitan. Di jalan yang mulai diguyur hujan saya berpikir banyak hal. Kita misalnya telah lama mengeluhkan anak-anak muda yang meninggalkan desa, meninggalkan perkebunan dan pertanian, tapi ini ada anak muda\u2026 lalu tiba-tiba pikiran berpindah ke pertanyaan: apakah nanti jika Indonesia menjadi anggota FCTC, anak-anak muda seperti Andi dan Sakti, dan lain-lain, masih akan ada di desa seperti Tuksongo? Mungkin mereka, seperti anak-anak muda lain, juga akan ke kota.<\/p>\n\n\n\n

Entahlah!<\/p>\n","post_title":"Yang Betah di Desa: Anak Muda dan Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"yang-betah-di-desa-anak-muda-dan-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-03-05 09:32:18","post_modified_gmt":"2020-03-05 02:32:18","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6560","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};