Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap.
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\n
Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum.
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_title":"Syeikh Ihsan Jampes dan Seluk Beluk Hukum Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"syeikh-ihsan-jampes-dan-seluk-beluk-hukum-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 13:42:39","post_modified_gmt":"2024-01-04 06:42:39","post_content_filtered":"\r\n Rokok telah menjadi kontroversi di kalangan ulama Timur Tengah pada saat bersamaan dengan hadirnya tembakau ke wilayah Timur Tengah. Apabila dilihat dalam sejarah, ulama yang menghalalkan maupun mengharamkan rokok sudah ada sejak abad 11 H atau sekitar abad 16 M. Taruhlah sebagai contoh dua nama ulama yang disebutkan oleh Syeikh Ihsan Jampes dalam kitabnya tentang rokok yang berjudul Irsyadul Ikhwan.<\/em>\u00a0 Ibrahim Al Laqqani (- 1041 H) adalah seorang ulama mazhab Maliki dari Mesir yang mengharamkan rokok. Di sisi lain ada Al Babili (- 1077 H) ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir yang menghalalkan rokok. Ini menunjukkan bahwa perdebatan tentang halal dan haram rokok telah muncul sejak masa awal perkembangan tembakau di dunia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kitab Irsyadul Ikhwan karya Syeikh Ihsan Jampes sendiri adalah potret karya ulama Nusantara ;tentang rokok yang muncul pada abad 20 M. Syeikh Ihsan menulis kitab ini dengan inspirasi kitab tentang rokok, Tadzkiratul Ikhwan<\/em>, yang ditulis gurunya yaitu KH Dahlan Semarang yang hidup di antara abad 19 \u2013 20 M.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Syeikh Ihsan Jampes pun Menulis Kitab untuk Para Perokok<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sejauh ini, sebelum KH Dahlan maupun Syeikh Ihsan belum terlacak karya ulama Nusantara lain yang membahas rokok dengan sudut pandang fikih. Ini menunjukkan bahwa di Nusantara rokok memang bukanlah hal yang perlu dibahas dalam kacamata fikih oleh para ulama Nusantara sebelum masa itu. Karya KH Dahlan sendiri terpengaruh oleh perdebatan hukum rokok di Timur Tengah yang berlangsung sudah sejak lama. KH Dahlan memang mengenyam pendidikan Islam di Timur Tengah sehingga ia bisa melakukan transmisi khazanah fikih rokok dari Timur Tengah ke Nusantara. Usaha ini diteruskan oleh Syeikh Ihsan dengan menulis kitab rokok dalam suasana keNusantaraan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Karya Syeikh Ihsan menjadi penting karena Nusantara adalah wilayah di mana rokok bukanlah merupakan aktivitas biasa namun telah menjadi elemen kultural dan ekonomi masyarakat Nusantara. Di sini, masyarakat tidak hanya terlibat sebagai konsumen rokok namun juga menyatu dengan industri dan pertanian seputar rokok.\u00a0<\/strong><\/p>\r\n Kitab Syeikh Ihsan mampu hadir mengawal iklim tersebut yang tentu saja berbeda dengan iklim Timur Tengah misalnya, di mana aktivitas agrikultural seputar rokok sebagaimana ada di Nusantara tidak dapat ditemukan. Artinya perdebatan tentang istinbat<\/em> hukum rokok di Timur Tengah begitu sengit, berbeda di bumi Nusantara ini yang tidak begitu dipersoalkan dilkalangan NU, karena hukumnya sudah mutlak boleh dikonsumsi sejak zaman dahulu sebelum lahirnya NU, dan disinyalir tradisi mengkonsumsi tembakau dan olahannya sejak zaman Walisongo.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Rokok dan Kopi dalam Kitab \u201cNadzam Irsyad al-Ikhwan\u201d<\/a><\/p>\r\n Perdebatan tentang rokok dalam sejarah ulama timur tengah juga memunculkan isu keberadaan hadits antirokok. Sebagaimana jamak ditemukan dalam beragam bidang bahasan, kontroversi kuat atau lemahnya hadits akan mengikuti perdebatan atas status hukum suatu hal. Dalam hal ini Al Ajhuri juga pernah ditanya tentang sebuah hadits yag mengarah pada keharaman rokok dan menjawab bahwa hadits tersebut adalah bagian dari kebohongan belaka. Hadits tersebut sebagian redaksinya berbunyi:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u0641<\/strong>\u0644\u0627 \u062a\u0639\u0627\u0646\u0642\u0648\u0627 \u0634\u0627\u0631\u0628 \u0627\u0644\u062f\u062e\u0627\u0646 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0635\u0627\u0641\u062d\u0648\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u062a\u0633\u0644\u0651\u0645\u0648 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0641\u0627\u0646\u0647 \u0644\u064a\u0633 \u0645\u0646 \u0623\u0645\u0651\u062a\u064a<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJanganlah kamu memeluk seorang perokok, jangan bersalaman dengannya, jangan mengucap salam padanya maka sesungguhnya mdia bukan bagian dari umatku\u201d.<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kemudian Syeikh Ihsan juga tidak lupa menukil pendapat dari Syeikh Mara\u2019i Al Karami (- 1033 H) yang menguatkan argumentasi bahwa rokok tidak memiliki sifat keharaman yang inheren. Syeikh Mara\u2019i adalah ulama mazhab Hanbali dari Mesir yang mengarang risalah Al Burhan fi Sya\u2019ni Syurbid Dukhan (penjelasan tentang seputar menghisap rokok). Argumentasi Syeikh Mara\u2019i ini dikuatkan lagi oleh Syeikh Ihsan dengan penulisan pendapat dari Al Manawi (- 1031 H) dan As Syubari (- 1066 H). Keduanya ulama ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Pada bagian akhir bab ketiga Syeikh Ihsan mulai merumuskan pendapat yang bisa dijadikan pedoman. Pada rumusan pendapat ini yang digunakan sebagai rujukan bukan lagi risalah-risalah yang secara khusus membahas rokok namun kitab-kitab fikih secara umum yang pembahasannya lebih luas. Nama ulama yang muncul pada bagian ini adalah semisal Al Bajuri (- 1277 H) dari Mesir, As Syarwani (- 1298 H) dari Mekkah, Al Ghazali (- 505 H) dari Persia, Al Madabighi (- 1170 H) dari Mesir, Ibnu Hajar Al Haytami (- 973 H) dari Mekkah. Kesemua nama-nama yang dinukil pendapatnya oleh Syeikh Ihsan ini adalah ulama bermazhab Syafi\u2019i.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Sebagi kesimpulan, status yang ditegaskan Syeikh Ihsan Jampes atas merokok adalah jawaz (boleh) yang memuat sifat ke rahah (dibenci). Tapi ditegaskan bahwa ke arah atau status makruh itu dengan syarat apabila si perokok itu bisa meninggalkan rokok tersebut. Apabila si perokok tidak bisa meninggalkan rokok maka kemakruhan rokok itu gugur.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6251","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6245,"post_author":"878","post_date":"2019-11-21 10:49:16","post_date_gmt":"2019-11-21 03:49:16","post_content":"\r\n Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Sebagai tradisi, dan budaya sehari-hari, masyarakat yang mendiami wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta pada abad 18 hingga 19 sudah mengonsumsi tembakau dalam bentuk rokok. Tak hanya tembakau, berbagai macam campuran dalam selinting rokok juga ditambahkan untuk menambah citarasa rokok yang diisap. Berkembangnya industri rokok diko ini bermula dari citarasa rokok diko yang lain dari rokok yang umum dikonsumsi masyarakat Surakarta pada masa itu. Pembuatan wur yang cukup rumit sehingga menghasilkan citarasa dan aroma yang khas. Hal ini membikin rokok diko mulai laku di pasaran hingga pada akhirnya industri rokok diko berkembang ke berbagai daerah di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Ada seorang laki-laki yang kisah cintanya selalu kandas di saat bekerja serabutan. Hingga harus banting setir profesi yang saat itu ia jalani. Anehnya, satu-satunya profesi bidikannya menjadi karyawan pabrik Djarum. Menurutnya saat itu cintanya seringkali kandas kalah saing dengan karyawan Djarum. Menurut Mas\u2019ud bin Hasan Al Qanawi (- 1205 H), ulama mazhab Syafi\u2019i dari Mesir, adalah hal yang bisa mengobati beberapa jenis penyakit termasuk serak. Ar Rasyidi (- 1069 H), yang ulama bermazhab Syafi\u2019i dari Mesir, dalam kitab Hasyiyah \u2018ala Nihayatil Muhtaj juga memaparkan bahwa tiadanya dalil yang menyatakan keharaman rokok menunjukan status kebolehan rokok. Syeikh Ihsan menambahkan bahwa hukum asal dari rokok adalah mubah bahkan rokok itu dapat menambah kefasihan berbicara dan menjadikan seseorang bersemangat. Rokok adalah halal kecuali bagi orang yang bisa terdampak hilang akal maupun bahaya pada badan, demikian apa yang disampaikan Syeikh Al Ajhuri (- 1066 H) ulama Mesir mazhab Maliki, pengarang risalah Ghayatul Bayan li Hilli Syurbi ma la Yughayyibul \u2018Aqla minad Dukhan (tujuan keterangan tentang kehalalan menghisap rokok yang tidak menghilangkan akal). Banyak ulama mazhab baik Hanafi, Hanbali dan Syafi\u2019i yang memilik pendapat sama seperti itu.\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Kitab Syekh Ihsan Jampes<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Hadits AntiRokok<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Perkembangan Industri Rokok di Surakarta dan Yogyakarta","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perkembangan-industri-rokok-di-surakarta-dan-yogyakarta","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:49:55","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:49:55","post_content_filtered":"\r\n
Sejarah konsumsi tembakau di dua kerajaan itu bisa ditarik lebih jauh lagi pada masa sebelum abad 18. Akan tetapi, ketika itu tembakau tidak dikonsumsi dengan cara diisap, namun dikunyah bersama sirih, pinang, dan beberapa bahan lainnya.
Sebelum rokok jenis kretek (bahan baku utama campuran tembakau dan cengkeh) marak beredar dan menguasai pasar rokok di negeri ini, di wilayah Surakarta dan Yogyakarta dikenal rokok dengan pembungkus daun nipah. Tembakau yang digunakan untuk rokok itu dicampur dengan ragam jenis bahan lainnya untuk menguatkan rasa sekaligus menambah tajam aroma dari rokok. Di kalangan masyarakat Surakarta dan Yogyakarta, bahan campuran untuk tembakau ini dikenal dengan istilah wur atau uwur.
Bahan untuk membikin wur ini terdiri dari beraneka jenis bahan. Mulai dari klembak, kemenyan, kemukus, kayu manis, pala, adas, pulosari, pucuk, cendana, ganti, tegari, mesoyi, waron, klabet, dupa, dan beberapa bahan lainnya.
Menurut Van Der Reijden, seorang peneliti asal Belanda, penemu dan peracik awal bahan campuran yang disebut wur ini adalah Mas Ngabehi Irodiko, seorang mantri di kraton Surakarta. Karenanya, rokok dengan ragam bentuk campuran itu pada akhirnya dikenal dengan nama rokok diko, menggunakan nama penemunya.
Ini terjadi setelah produk rokok yang sebelumnya adalah produk konsumsi rumah tangga, berubah jadi industri rumah tangga dan mulai dijual ke khalayak ramai oleh mereka yang memproduksi rokok ini secara massal. Menurut pemerhati dan peneliti industri rokok, Mas Ngabehi Irodiko pertamakali mengenalkan rokok buatannya pada tahun 1890, tak lama setelah itu, industri rokok baru berkembang di wilayah kerajaan Surakarta.<\/p>\r\nIndustri Rokok di Surakarta<\/h3>\r\n
Menurut keterangan Van Der Reijden, dari sejumlah perusahaan rokok yang berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta yang memproduksi rokok dalam skala menengah hingga besar, dengan mempekerjakan banyak tenaga kerja untuk produksi, perusahaan tertua berdiri di Sala pada tahun 1897, setelah itu muncul perusahaan kecil di beberapa tempat lain.
Pabrik-pabrik rokok berdiri kemudian di Karanganyar pada 1906, di Sragen pada 1908, Klaten pada 1911, Boyolali pada 1906, dan di Wonogiri pada 1920. Pendirian perusahaan rokok berbasis rokok diko ini berkembang hingga ke wilayah kerajaan Yogyakarta dengan didirikannya pabrik rokok di Yogya pada 1914, di Bantul pada 1919, Adikerta pada 1924, dan Kulonprogo pada 1927.
Seperti pada wilayah lainnya di negeri ini, kreativitas dan selera sebuah masyarakat pada akhirnya menghasilkan varian-varian baru dari jenis rokok yang beredar di Yogyakarta. Masyarakat Yogya ternyata lebih menyukai jenis rokok dengan rasa yang lebih ringan, tidak sekeras dan sekuat rasa dan aroma rokok diko dengan wur yang beragam jenisnya. Mereka mengembangkan jenis rokok industri baru lainnya yang lebih ringan rasa dan aromanya dibanding rokok diko. Ini dilakukan dengan mengurangi bahan baku wur hingga hanya tersisa klembak dan kemenyan saja. Rokok jenis ini disebut rokok wangen.
Industri rokok diko dan rokok wangen berkembang di wilayah kerajaan Surakarta dan Yogyakarta hingga tahun 1930an. Selanjutnya industri rokok ini perlahan meredup usai masuknya jenis rokok baru, jenis rokok yang hingga kini terus bertahan dan digemari masyarakat nusantara.\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6245","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6242,"post_author":"877","post_date":"2019-11-20 12:51:20","post_date_gmt":"2019-11-20 05:51:20","post_content":"\n
Tuhan bersamanya, dengan do\u2019a dan kesungguhan usaha akhirnya ia diterima menjadi karyawan Djarum. Ternyata dugaannya benar, setelah ia menjadi karyawan Djarum ia pun menjadi idola mertuanya.
Sebelum cerita tentang kisahnya, kalau ada yang bilang tak konsisten memilih kosa kata antara pegawai atau karyawan. Jawabnya ya dan dak urus, karena mau pegawai mau karyawan atau buruh intinya sama. Pegawai itu ya karyawan, karyawan ya buruh, karyawan ya pegawai ya buruh, buruh ya pegawai ya karyawan, tak ada beda. Seperti halnya pegawai negeri sipil (PNS), itu sama aja buruh atau karyawan pemerintah pelayan masyarakat. Ingat ya, bedanya kalau PNS gaji dari uang rakyat, kalau pegawai perusahaan atau sejenisnya gaji dari bos. Nah, kalau PNS tanggungjawabnya pada masyarakat, kalau karyawan perusahaan tanggungjawabnya pada bos.
Saat pesta demokrasi pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kudus berlangsung, tiba-tiba handphone bergetar ada WA masuk. Ternyata ada teman main namanya Totok asal desa Gondangmanis minta bantuan olah data prediksi calon kades yang didukung menang atau kalah dengan silisih berapa. Awalnya masih mikir lama antara harus meluncur ke sana atau tidak. Kalau kesana konsekwensinya membantu memprediksi calon yang didukungnya. Sedangkan tak punya keahlian itu. Kalau boleh jujur, kayak beginian kepala suku mojok jagonya, EA nama belakangnya. Bermodal kaca mata ia bisa menembus tabir siapa nanti yang akan jadi, bahkan sampai perkiraan hitungan prosentasenya.
Tapi kalau tidak datang ke sana rasanya rugi, tak bisa ketemu teman lama, tak bisa ngobrol, tak bisa bantu. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya pada jam 09.15 jadi meluncur ke desa Gondangmanis. Kalaupun tak bisa bantu memprediksi, mungkin ada hal lain yang bisa dibantu, yang terpenting bisa ngobrol bareng. Dengan ditemani panas terik matahari 15 menit kemudian sampai di lokasi titik kumpul. Ternyata terlihat banyak teman lama pada kumpul, sambil ngopi dan banyak rokok MLD hitam, MLD putih, LA menthol tak ketinggalan Senior berserakan di meja. Terlihat juga satu buah laptop merek Lenovo di atas meja itu. Setelah bersalaman dan duduk, diberilah segelas kopi sambil ditawari rokok. ya jelas lah rokok yang pertama terambil baru kopinya diminum.
Posisi duduk bersebelahan dengan Totok yang sedang memandangi laptop. Ia adalah salah satu temanku yang bekerja di Djarum. Setelah basa basi ngobrol sana sini, lagi-lagi Totok menanyakan prediksi calon kadesnya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ikut memandangi laptop. Ternyata mereka sudah mengumpulkan data hitungan angka sebagai bahan prediksi, cuman sayangnya tidak diawali dengan survei sebelumnya. Angka-angka tersebut berdasarkan perkiraan data by name yang terjaring dan data daftar pemilih. Tapi tak mengapa, mereka sudah selangkah lebih maju dengan melek data. Karena yang tau persis adalah mereka, akhirnya kita coba sama-sama mengolah angka tersebut hingga menjadi hitungan prediksi.
Bermodal rembesan ilmu dari kepala suku mojok, mencoba menghitung data dengan empat rumus sambil sesekali diskusi dengan tim lapangan. Rumus pertama menentukan menang atau kalah, rumus kedua melihat selisih minimum, rumusan ketiga melihat selisih maksimum, dan rumusan terakhir melihat selisih ketetapan ambang bawah dan atas. Ini rumusan yang amat sederhana dan mudah dilakukan tiap orang, tapi banyak orang lupa yang sederhana dan mudah. Walhasil, hitungan rumusan pertama terjawab menang, rumusan kedua menampilkan angkat selisih paling sedikit sekitar tiga ratusan, rumusan ketiga muncul angka selisih atas sekitar seribu lima ratusan, rumusan keempat muncul angka selisih enam ratusan sebagai ambang bawah dan atas. Semua ini hanya prediksi awal, yang alhamdulillah sesuai dan hanya beda tipis dengan real count.
Selesai memprediksi dilanjutkan 3N (ngobrol, ngudud, ngopi) sambil menunggu perhitungan. Biasa pada posisi seperti ini banyak yang masih was-was, antara benar dan tidaknya prediksi. Hal yang wajar namanya juga prediksi atau perkiraan, tapi yakin mendekati benar ketika tahapan dan prosedur sesuai rumusan kepala suku mojok dilakukan. Kembali ke 3N, ketemu teman lama satu lagi bernama Ibad baru merapat ke titik kumpul, ternyata ia pun masuk dalam tim pemenangan bagian monitoring lapangan. <\/p>\n\n\n\n
Masa penantian perhitungan masih lama, saat itu jam baru menunjukkan pukul 11.10, sedengkan terdengar pengumuman perhitungan dimulai jam 13.00. Aku dan Ibad fokus ngobrol sendiri dan saling cerita. Ternyata Ibad sekarang tidak lagi kerja serabutan, sudah menjadi karyawan perusahaan Djarum seperti halnya Totok. Menjadi karyawan Djarum tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, persaingannya ketat seperti mendaftar PNS. Jumlah pelamar dengan jumlah kebutuhan tidak seimbang, mungkin 1: 50, yang dibutuhkan 1 yang melamar 50 orang. <\/p>\n\n\n\n
Ibad ini orangnya baik, tekun, sederhana dan memang cerdas saat masih dibangku sekolah. Jadi sangat pantas ia menjadi karyawan di Djarum. Saat dibangku SMA, ia tak malu pakai sepeda ontel walaupun teman-temannya naik sepeda motor. Walaupun pakai sepeda ontel dan tak mengenal kursus atau les privat mata pelajaran, ia sering didatangi teman-temannya hanya sekedar minta diajari. Lulus SMA ia langsung bekerja buruh bangunan karena tak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. <\/p>\n\n\n\n
Ia bercerita, sebenarnya cita-citanya menikah sela tiga tahun setelah lulus SMA. Namun apa daya, orang yang ia cintai akhirnya menikah dengan orang lain. Dan memang saat itu ia masih kerja serabutan, terkadang buruh bangunan, kernet angkutan, bahkan terkadang diminta tolong tetangga untuk membersihkan pekarangan. Tapi juga terkadang ia tidak kerja. Semasa itu kisah cintanya dua kali kandas kalah saing dengan orang-orang yang sudah mapan (istilah orang desa) atau punya pekerjaan tetap. Secara kebetulan asmaranya dua kali kandas kalah berebut dengan dua orang sebagai karyawan Djarum. Hingga akhirnya ia punya niatan untuk menjadi karyawan Djarum dan berhasil. <\/p>\n\n\n\n
Singkat cerita, setelah menjadi karyawan Djarum, banyak orang yang menarkan perempuan untuk mendampinginya. Tak hanya itu, banyak kaum hawa yang hanya sekali digoda langsung terkintil-kintil. Hingga ia menemukan pujaan hatinya, hasil dari diperkenalkan keponakan seniornya di Djarum. Mereka saling suka, orang tua si perempuan sangat setuju, namun gagal menikah karena tempat tinggal si cewek di kabupaten Kendal Semarang, dan tidak mau bertempat tinggal di Kudus dengan alasan harus menjaga kedua orang tuanya. Walaupun gagal menikah, hubungan orang tua perempuan dengan Ibad masih baik, dan sering komunikasi. Akhirnya Ibad menyadari dan mundur teratur mencari jodoh lain. <\/p>\n\n\n\n
Kemudian ia berkenalan dengan perempuan yang sekarang menjadi pendamping hidupnya. Saat masih proses perkenalan, orang tuanya si perempuan bertanya ke Ibad dimana ia kerja. Dengan percaya diri ia menjawab kerja di Djarum. Kemudian direstui dan menikah. Perjalanan hidup berumahtangga lika-likunya serasa berat, kata Ibad. Bahkan ia sama istrinya pernah cerai, gara gara beda pendapat. Rumah tangganya bersatu kembali berkat mertuanya sangat sayang Ibad. Mertuanya lebih membela Ibad dari pada putrinya sendiri, pengakuan Ibad kembali. Pada akhirnya, mereka berdua rujuk dan damai hingga sekarang, Alhamdulillah.
Tidak hanya kasus Ibad, memang di Kudus strata sosial pegawai Djarum setara dengan PNS. Mayoritas masyarakat Kudus beranggapan kerja di Djarum sama sejahteranya dengan PNS, bahkan bisa jadi lebih sejahtera. Menjadi karyawan Djarum menjadi kebanggaan tersendiri, menjadi karyawan Djarum menjadi menantu idaman. <\/p>\n","post_title":"Kisah Pegawai Djarum Menjadi Menantu Idaman","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kisah-pegawai-djarum-menjadi-menantu-idaman","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-20 12:51:32","post_modified_gmt":"2019-11-20 05:51:32","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6242","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};