Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n
Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek.
<\/p>\n\n\n\n
Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control). Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Adanya museum kretek, menguatkan bahwa kretek yang pertama kali ditemukan di Kudus. Didudukkan sebagai ekspresi pengetahuan dan kreatifitas lokal yang dihadirkan oleh masyarakat yang kemudian berkembang pada sekumpulan masyarakat dan selanjutnya secara turun temurun menjadi sistem mata pencaharian hidup. Kenyataan bahwa kretek menjadi budaya keseharian masyarakat Indonesia tidaklah bisa dibantah. <\/p>\n\n\n\n Dengan alasan itu, jelas bisa diterima jika Hanusz menyebut kretek sebagai temuan sekaligus warisan budaya Indonesia yang penting. Hanusz memang tidak mendedahkan secara jelas apa dan mengapa menyebut kretek sebagai heritage. Tetapi di sepanjang tulisannya, Hanusz selalu memampangkan bahwa kretek telah menjadi sumber sekaligus muara dari berbagai keahlian yang membentuk tradisi yang panjang; keahlian menanam, mengolah, memilih, memilah, membuat, mencampur, mengemas dll, serta berbagai jenis keanekaragaman; varietas tanaman, bentuk produk, gaya hidup, ekspresi, dan praktek sosial.<\/p>\n\n\n\n Jika merujuk perhitungan ditemukannya kretek merujuk pada sumber tradisi lisan, yakni oleh Haji Djamhari pada rentang 1870-1880, maka usia kretek kini telah melebihi 125 tahun. Ini membuktikan kalau usia kretek telah mencapai lebih dari 50 tahun sebagai batas minimal syarat ditetapkannya sebuah benda\/tak benda menjadi warisan budaya sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Bab III Pasal 5. <\/p>\n\n\n\n Belum lagi, jika merujuk pada data kolonial yang menunjukkan bahwa sejak abad ke-16 telah banyak masyarakat bumiputera yang menghisap campuran tembakau dengan beberapa rempah dan dipercaya salah satunya cengkeh, maka usia kretek hari ini jauh lebih tua lagi. Selain usia yang telah memenuhi syarat minimal sebuah benda\/tak benda disebut warisan budaya, tradisi meracik kretek juga telah diwariskan secara turun menurun sebagai sistem pengetahuan masyarakat. <\/p>\n\n\n\n Pada museum kretek di Kudus tercatat seseorang menjadi saudagar kretek besar kali pertama. Tak lain adalah Nitisemito. Tampilnya Nitisemito Sang Raja Kretek Jawa dengan rokok bal tiga-nya adalah tonggak dimulainya kretek memasuki industri nasional yang berdampak pada ekonomi dan budaya nasional. Pada awal 1914, Nitisemito membuka lahan seluas 14 hektar dan menyerap hingga 15.000 tenaga kerja. Kemudian jejaknya diikuti oleh para pengusaha rokok lain di Kudus dan kota-kota sekitarnya. <\/p>\n\n\n\n Lain itu di museum kretek terdapat banyak merek kretek yang terpampang. Kalau dicermati merek kretek banyak makna yang terkandung dan selalu bertalian dengan beragam aspek, diantaranya adalah aspek keyakinan, filosofi, memori, keakraban dan inspirasi. Kebermaknaan merek berlaku bagi pemberi merek maupun pengguna kretek. Adanya siratan makna di dalam merek kretek dapat dipahami, sebab pada dasarnya merek merupakan tanda (sign). Penandanya didasarkan pada referensi tertentu. Walaupun demikian bukanlah hal yang mudah untuk merepresentasikan makna yang terkandung dalam tiap-tiap merek produk kretek. Bahkan tidak jarang terjadi bahwa makna yang tersirat dalam suatu merek merupakan misteri abadi, yang hanya diketahui maknanya oleh si pemberi merek.<\/p>\n\n\n\n Begitulah, kretek juga bersinggungan dengan ilmu simbolik, semiotika dan semantik. Merek-merek kretek yang merupakan keakraban dengan tradisi simbolik kehidupan keseharian orang Kudus dan sekitarnya, menandakan bahwa kretek adalah bagian dari keseharian, tradisi, adat istiadat, perilaku budaya dan kehidupan antropologis leluhur bangsa kita. Maka melestraikan kretek sebagai kreatifitas budaya yang adiluhung di era modern saat ini, sama dengan berjihad mengusung kretek sebagai warisan budaya bangsa yang dibanggakan di dunia. <\/p>\n\n\n\n Kretek merupakan unsur tradisi yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari yang namanya kretek. Perlu diektahui bahwa kretek pada dasarnya juga rokok. Tetapi tidak semua rokok adalah kretek. Ada distingsi yang jelas antara rokok kretek dengan rokok\u2013rokok lain yang non-kretek. Dalam hal ini bisa diketahui melalui sudut pandang filsafat, dan sejarahnya. <\/p>\n\n\n\n Dari sisi filosofis, kretek hakekatnya merupakan hasil kreatifitas masyarakat Indonesia di dalam meramu tembakau, dan cengkeh. Dengan kombinasi cengkeh di dalam tembakau itulah, maka rokok kretek secara material maupun kultural berbeda dengan rokok-rokok lain yang non-kretek. Sebab, hanya ada di Indonesia ramuan seperti itu dalam dunia rokok. Inilah yang membedakan kretek dengan rokok-rokok lainnya. Temuan kretek ini kemudian berdampak kepada ranah yang lain yang lebih luas, utamanya di bidang ekonomi. Hingga saat ini industri kretek merupakan salah satu industri yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan juga memberikan hasil income terbesar kepada negara. <\/p>\n\n\n\n Kretek tentu saja bukan budaya yang beku. Kretek, dengan bahan baku diperoleh dari cara menanam (cengkeh dan tembakau), membuat, mengemas, menyuguhkan dan menjual serta menikmati, juga telah mengalami perubahan. Dari yang manual tradisional menjadi modern. Untuk tetap mengenang jejak itulah, di Kudus berdiri Museum Kretek.<\/p>\n","post_title":"Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"museum-kretek-kudus-bukti-kretek-asli-warisan-budaya-nenek-moyang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-04 08:48:01","post_modified_gmt":"2019-11-04 01:48:01","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6202","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu. Pemuda dan kretek, selain memiliki akar sejarah panjang dengan berdirinya bangsa ini nayatanya pernah sama-sama pula dikerdilkan. Pengerdilan komoditas nasional yang unggul dari keduanya ditekan oleh penetrasi pemerintah dengan beragam alasan, yang tujuannya satu; menjaga stabilitas negara.<\/p>\n\n\n\n Pemuda mengambil peran dalam persilatan gerakan nasional di era kolonial, sementara industri kretek mulai tumbuh dan berkembang dalam percaturan ekonomi pada masa Hindia Belanda. 91 tahun sumpah pemuda diperingati bukan saja untuk sebuah glorifikasi, namun lebih dari itu, mestinya menjadi refleksi bahwa pemuda pernah menjadi ancaman untuk pemerintah pada masa orde baru berkuasa.<\/p>\n\n\n\n Baca: Pramoedya Ananta Toer dan Mark Hanusz Bicara Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Bersama pemuda, kretek merupakan komoditas unggulan yang biasa menemani anak muda beralih jenjang dari seorang bocah ingusan menjadi seorang pemuda. Barangkali mirip seperti apa yang disebut Zen RS dari Jean Paul Sartre yang mengatakan sepakbola menjadi rite the Menjadi pemuda pada masa kolonial tentu sebuah privilage yang cukup luar biasa. Anak muda akan dihadapi dengan persoalan fundamental perihal bangsanya sendiri yang dijajah oleh lain negara. Perhimpoenan Indonesia saat itu menjadi wadah yang menjadi reprentasi gerakan anak muda di negeri belanda yang mulai berebut pengaruh rakyat di nusantara bersama Serikat Islam, PKI dan juga Boedip Oetomo.<\/p>\n\n\n\n Perhimpunan Idonesia sendiri lahir dari cikal bakal Klub Studi Umum di Bandung dan juga Studi Klub Indonesia yang dimobilisasi di Surabaya. John Ingelsonn dalam bukunya Jalan ke Pengasingan, mengatakan bahwa pemuda masa itu yang dipelopori Bung Hatta berusaha untuk mengumpulkan rumusan sikap yang digagas oleh organisasi sebelumnya. Empat asas yang dijunjung ini adalah Kesatuan Nasional dari Boedi Oetomo, Swadaya dari Serikat Islam, Non Koperatif dari PKI san Solidaritas rumusan PI sendiri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a><\/p>\n\n\n\n Perjalanan panjang PI sebagai wadah pemuda di era kolonial melahirkan anak muda yang tidak culas menghadapi penetrasi pemerintah kolonial. Mereka mesti siap menelan risiko pengasingan dan dekapan penjara andai bertindak gegabah dan pemerintah. Sementara saat telah merdeka dan berdiri di bawah naungan pemerintah nasional, pemuda pernah dikerdilkan akibat penetrasi nya yang merongrong pemerintah bangsa sendiri. Mulai dari Aksi penolakan pembangunan Taman Mini sampai Aksi paling besar di era Orde Baru pada 17 Januari 1974.<\/p>\n\n\n\n Seperti pemuda, industri Kretek pada awalnya menghadapi tekanan kolonial dengan pajak yang tinggi dan peralihan kekuasaan yang mencekam di era jepang. Namun di sela itu, Nitisemito sebagai Raja Kretek di Era Kolinial masih sempat mengalirkan keuntungan kretek demi perjuangan pergerakan nasional.<\/p>\n\n\n\n Keduanya, baik Industri Kretek dan pemuda sama-sama terlibat dalam mendesak kemerdekaan bangsa Indonesia dan sama-sama pula akhirnya dikerdilkan oleh pemerintah bangsanya sendiri.<\/p>\n\n\n\n Pada awal tujuh puluhan, anak muda mendapat tekanan pengerdilan lewat agitasi pemerintah yang memandang anak muda tak cukup bisa membawa dirinya sendiri. Orde Baru menggulirkan legitimasi kebudayaan bahwa anak muda semestinya hidup dengan keteraturan di bawah naungan keluarga dan struktur sosial yang ada.<\/p>\n\n\n\n Saat mereka tak mengikuti imbauan dan citra yang dibentuk oleh pemerintah pemuda mereka dianggap anak muda yang labil dan rentan akan kelabilan serta kegamangan usia. Sampai pemerintah mesti mengurusi hal yang begitu personal di masyarakat. Pemuda yang berambut gondrong akan dirazia sebagaimana razia SIM oleh polisi di setiap ujung belokan jalan.<\/p>\n\n\n\n Kretek juga tak kalah menelan kesintingan tekanan pemerintah lewat kementerian kesehatan dan industri farmasi. Mereka membangun citra yang buruk dari kretek namun diam-diam berselingkuh dengan industri rokok luar sambil menikmati cukai industri kretek bangsanya sendiri. Berselingkuh berarti menduakan industri kretek nasional dan menekan jumlah pajak yang kian lama terus membesar.<\/p>\n\n\n\n Dari pemuda dan kretek setidaknya kita paham, mental penjajah dan penghisap bukan melekat secara komunal dan kebangsaan, tapi ia justru karakter yang bisa melekat pada diri siapa saja. Keduanya memiliki titik pijak yang kokoh dalam sejarah, mengalami dinamika yang kompleks dan kini ditantang bergerak lebih cepat, berakselerasi lebih giat meski akhirnya sama-sama dihisap oleh pemerintah bangsa ini.<\/p>\n","post_title":"Pemuda dan Kretek Sama-sama Pernah Dikerdilkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"pemuda-dan-kretek-sama-sama-pernah-dikerdilkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-30 10:29:57","post_modified_gmt":"2019-10-30 03:29:57","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6187","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris. Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air. Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":24},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.
Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!
My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.
Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.
Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.
Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.
Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.
Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0
<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6187,"post_author":"904","post_date":"2019-10-30 10:29:55","post_date_gmt":"2019-10-30 03:29:55","post_content":"\n
passage dalam peralihannya menjadi seorang anak muda.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n